LAZISWahdah.com – Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”

Manusia-manusia agung seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad ibn Hanbal, -dan sebutlah nama-nama lainnya dengan bibirmu-. Menurutmu apa yang melebihkan mereka dari diri kita? Sekali lagi, menurutku karena mereka sangat cerdas menjawab pertanyaan ini dengan amal mereka. Hanya itu.

Banyak orang yang hidup. Dan sudah banyak pula yang beranjak menjemput kematian. Kemana mereka semuanya pergi? Entahlah. Banyak yang meninggalkan dunia, dan menyisakan jejak-jejak laknat pada generasi berikutnya. Dalam pentas sejarah, nama-nama seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Musailamah Al-Kadzdzab, adalah nama-nama yang menebarkan aroma laknat dan kejahatan. Sungguh jauh, ya, sangat jauh dengan aroma rahmat yang ditebarkan oleh Musa, Muhammad, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibn Al-Khathab dan kafilah yang mengikuti mereka.

Banyak orang yang hidup. Fisik mereka sehat dan sempurna. Tapi saat kematian menghampiri, hampir tak satupun jejak-jejak kebaikan yang dapat dikenang dari mereka. Mereka pergi begitu saja dari dunia ini, tanpa ada yang kehilangan. Ada yang menangisi, tapi hanya untuk beberapa saat. Setelah itu, nama dan jejak mereka tak lagi pernah disentuh. Miris. Tentu saja. Tapi mungkin seperti itulah akhir hayat manusia yang tak pernah bertanya dengan jujur, “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”.

Kita seringkali ditanya, dan jawaban kita pun menjadi klise belaka, “Hidup ini untuk beribadah.” Benarkah? Maksudku, benarkah jawaban itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh meyakininya? Atau mungkin itu hanya menjadi –seperti biasa- pemanis bibir kita saja, terutama karena orang lain sudah terlanjur menganggap kita manusia saleh kekasih Tuhan?

Sahabatku…

Maka mulailah menghitung jejak-jejak yang tersisa. Dan jangan pernah bosan untuk bertanya di setiap jejak-jejak itu, “Untuk apa aku hidup? Jejak apakah yang nanti akan tertoreh dalam catatan amalku?” Ingatlah, di kehidupan abadi itu sudah pasti kita tidak akan bersama lagi. Karena aku dan kau, setiap kita hanya akan mempertanggungjawabkan semua secara sendiri-sendiri. Yah, sendiri-sendiri. Tidak ada ayah, ibu, anak, istri, saudara atau sahabat seperjuangan. Hanya aku sendiri. Dan engkau pun sendiri. Sungguh menakutkan. Dan terlalu mencekam.[]

Oleh: Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *