Potret Ketegasan dan Kelembutan sang Amirul Mu’minin

Umar Bin Khattab adalah satu dari khulafaurasyidin yang memimpin kekhalifahan Islam pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar menjadi khalifah kedua menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu tokoh Quraisy yang menentang ajaran Islam. Ia bahkan sering melakukan penyiksaan terhadap pemeluk-pemeluk Islam. Namun setelah masuk Islam, beliau menjadi salah satu pendukung dan pengikut utama dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Umar adalah seorang panglima perang dan terlibat langsung dalam berbagai peperangan seperti perang Badar, Uhud, Khaibar serta penyerangan ke Syria. Setelah Umar menjadi khalifah, kekuasaan Islam tumbuh sangat pesat mencakup wilayah Mesopotamia (Iraq) dan sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara. Pengaruh Islam juga melebar ke Armenia setelah merebutnya dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Khalifah Umar bin Khattab pernah didatangi seorang pembesar Syam yang telah memeluk Islam, Jablah bin Ayham Al Ghossaani. Saat itu, Jablah hendak menunaikan haji ke Mekkah.

Umar juga menjalankan ibadah haji bersama Jablah. Dia bergabung dengan rombongan Jablah menuju Mekkah.
Saat di Mekkah, Jablah kemudian melakukan thawaf. Saat menjalankan thawaf, tanpa sadar kain ihram yang dia kenakan terinjak secara tidak sengaja oleh seorang laki-laki dari Bani Fazaroh yang kebetulan juga sedang thawaf.
Hal itu sontak membuat Jablah marah. Dia lalu memukul hidung laki-laki itu hingga berdarah. Laki-laki itu tidak terima dengan perlakuan Jablah dan mengadu kepada Umar.

Mendapat pengaduan itu, Umar kemudian menyuruh petugas untuk menghadirkan Jablah. Jablah kemudian menghadap Umar.

Saat berada di hadapannya, Umar kemudian bertanya kepada Jablah, “Apakah benar kau telah memukul seorang laki-laki dari Bani Fazaroh ketika sedang thawaf?”

Jablah menjawab pertanyaan Umar dengan sangat angkuh. “Benar, Saya memang telah memukul hidung laki-laki itu, karena dia telah menginjak kain ihram saya hingga terlepas dari tubuh saya. Seandainya saja bukan karena kemuliaan Ka’bah, sudah saya tebas lehernya,” kata dia.

“Baiklah, karena kau telah melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain, maka sebaiknya kau minta maaf, jika tidak mau, maka saya akan suruh dia menuntut balas kepadamu,” ucap Umar.

Hal itu membuat Jablah terkejut. “Apa yang kau lakukan kepada saya, hai Amirul Mukminin? Kau sendiri tahu, aku ini adalah seorang pembesar Syam dan dia hanyalah rakyat jelata,” tanya Jablah.

Umar pun menjawab perkataan Jablah dengan tegas. “Ketahuilah, hai Jablah, sesungguhnya Islam telah mempersatukan kau seorang pembesar suatu kaum dengan lelaki yang hanya rakyat jelata. Sebenarnya antara kamu dengan dia tidak ada keistimewaan apa-apa, kecuali keimanan dan ketakwaan,” kata Umar.

Jablah pun menananggapi pernyataan Umar dengan perkataan yang sangat tidak menyenangkan. “Saya kira, saya akan lebih mulia dan dihormati setelah saya memeluk Islam. Tetapi, kenyataannya saya malah lebih diabaikan dari sebelumnya,” kata Jablah.

“Sudahlah, kalau kau tetap berkeras tidak mau minta maaf, maka saya suruh dia menuntut balas kepadamu,” ujar Umar dengan tegas. Tetapi, perkataan itu tidak membuat Jablah mau meminta maaf.

Dia kemudian mengancam, “Jika Amirul Mukminin tetap memaksa saya untuk meminta maaf, maka saya akan pindah agama kepada agama Nasrani.”

Ancaman itu tidak membuat Umar gentar. Bahkan, Umar balik mengancam Jablah, “Kalau kau berpindah agama Nasrani, maka dengan sangat terpaksa sekali saya akan menebas batang lehermu karena sebelumnya kau telah berikrar dengan suka hati untuk masuk ke dalam agama Islam, maka saya akan memerangimu.”

Melihat ketegasan Umar, Jablah kemudian merasa takut. “Baiklah, akan saya pikirkan terlebih dahulu hal ini secara matang malam ini,” kata Jablah.

Selain dikenal tegas, Umar bin Khattab bin Khattab juga adalah seorang yang sangat lembut hatinya. Orang-orang melihat Khalifah Umar berlaku seperti seorang ayah bagi kaum dhuafa, anak-anak yatim, dan orang-orang yang lemah.
Hampir setiap malam Umar bin Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Suatu malam, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Umar terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang anak kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerang panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
Umar memberi salam. Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakkan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera melihat ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala. “Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saja yang memikul karung itu.”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Ketika sampai di tempat wanita tersebut kemudian khalifah Umar meletakkan karung berisi gandum dan beberapa liter minyak samin ke tanah, kemudian memasaknya. Tatkala gandum tersebut sudah masak Khalifah Umar meminta sang ibu membangunkan anaknya.
“Bangunkanlah anakmu untuk makan.”

Anak yang kelaparan tersebut bangun dan makan dengan lahapnya. Anak tersebut kembali tertidur dengan perut yang telah kenyang.

Wanita itu berkata, “Terima kasih, semoga Allah membalas perbuatanmu dengan pahala yang berlipat.”
Sebelum pergi, khalifah Umar berkata kepada wanita tersebut untuk datang menemui khalifah Umar bin Khattab, karena khalifah akan memberikan haknya sebagai penerima santunan negara.

Esok harinya pergilah wanita tersebut ke tengah kota Madinah untuk menemui khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu‘anhu, dan tatkala wanita tersebut bertemu dengan khalifah Umar, betapa terkejutnya wanita tersebut bahwa khalifah Umar adalah orang yang memanggulkan dan memasakkan gandum tadi malam. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *