Oleh: ustadz Marzuki Umar, Lc. (Wakil Sekretaris Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Beratnya problema hidup, kadang membuat  manusia lupa bahwa segala sesuatu terjadi karena ketetapan Allah. Dan, kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa kita semua adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya. Sedih akan musibah tentu manusiawi, namun berlarut-larut dalam kesedihan sehingga lalai akan hakikat hidup tentu juga tidak bisa dibenarkan. Karena sikap penerimaan kita akan ketetapan Allah adalah kebaikan ummat ini, Rasulullah bersabda: “Sungguh ajaib urusan orang muslim, semua urusannya baik dan hal itu tidaklah terjadi kecuali pada diri seorang muslim. Apabila diberi kenikmatan ia bersyukur maka hal itu baik baginya. Dan apabila ditimpa kesulitan ia bersabar maka hal itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Berkaitan dengan hal ini, Imam Malik di dalam masterpiece beliau (muwaththa’) pernah menyampaikan kisah yang menarik tentang seorang ulama sekaligus ahli ibadah. Kisahnya sebagai berikut, “Dahulu di masa Bani Israil ada seorang laki-laki yang Alim (ulama) lagi ahli ibadah. Ia memiliki  istri yang sangat ia cintai. Dan tatkala sang istri telah meninggal, ia begitu terpukul dan sangat sedih. Hatinya belum bisa menerima kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan istri yang sangat disayanginya tersebut, hingga ia mengisolasi dirinya dari berinteraksi dengan manusia lainnya, tak seorang pun diperkenankan untuk menemuinya.

Mendengar berita tentang sang ahli ibadah ini membuat seorang wanita penasaran tentangnya, maka ia mendatangi rumahnya dan berkata, “Sungguh, saya sangat butuh fatwa darinya namun  saya harus menyampaikan langsung masalah saya.” Tetapi, tidak ada manusia yang mengindahkan apa yang dilakukan wanita tersebut. Dan sang wanita ini tetap bersabar berdiri di depan pintu menunggu keluarnya Alim tersebut. Ia berkata, ‘Sungguh, saya sangat butuh untuk mendapatkan fatwa darinya’. Lalu, salah seorang yang melihat wanita tersebut mengatakan dan menyeru alim tersebut, ‘sesungguhnya di sini ada seorang wanita yang sangat butuh untuk mendapatkan fatwa darimu.’ Dan wanita itu kembali menegaskan, ‘Dan aku tidak ingin menyampaikan kecuali harus bertemu langsung dengannya tanpa ada perantara.’ Namun, sang alim dan abid tersebut tetap tidak menghiraukannya, dan wanita tersebut juga tetap memilih berdiri di depan pintu dan bersabar untuk menemui langsung sang Alim tersebut.

Dan pada akhirnya, Sang Alim luluh dan mempersilahkan wanita tersebut mengutarakan masalahnya, ‘Izinkanlah ia masuk’ katanya.  Lalu, wanita itu pun masuk dan menyampaikan bahwa, “Sungguh, aku datang kepadamu karena satu masalah yang berat.’ Sang Alim menyambut dengan mengatakan, “Apa masalahmu?’ Wanita tersebut kemudian menceritakan, “Sesungguh aku telah meminjam perhiasan salah seorang tetanggaku dan aku senang memakainya sampai waktu yang lama, lalu suatu saat, tetanggaku tersebut mengutus seseorang menemuiku untuk mengambil kembali perhiasan itu?’

Lalu, Sang Alim menasehati, ‘Demi Allah, Anda harus mengembalikan perhiasan tersebut kepadanya.’ Lalu sang wanita menyangkal, ‘Tetapi, aku telah lama memakai perhiasan tersebut.’ Sang Alim melanjutkan, ‘Tetapi mereka lebih berhak untuk mengambil perhiasan yang telah dipinjamkan kepadamu meskipun telah lama bersamamu.’ Lalu, wanita itu berujar, ‘Wahai Alim, semoga Allah merahmatimu. Mengapa Anda  juga merasa berat hati untuk mengembalikan sesuatu yang telah dititipkan Allah kepadamu, lalu Allah ingin mengambil kembali titipanNya, padahal Dia lah yang lebih berhak untuk mengambilnya darimu?” Maka, dengan nasehat wanita tersebut, sadarlah Sang Alim atas apa yang menimpanya dan Allah telah menjadikan perkataan wanita tersebut menjadi penggugah kesadarannya.

Saudaraku, apa yang bersamamu sekarang adalah titipan Allah. Bersiaplah selalu setiap saat tatkala Allah ingin mengambil titipannya, berat memang. Namun, sebagaimana yang dikatakan sang wanita di atas, ‘Pemiliknya lebih berhak!‘. Analogi yang lebih sederhana adalah seperti para tukang parkir yang dititipi mobil dan motor. Saat empunya kendaraan mengambil kendaraan tersebut, dengan lapang tukang parkir menyerahkan karena ia sadar betul bahwa kendaraan tersebut hanya titipan.

Saat Rasulullah kehilangan putera kesayangannya, beliau bernasehat; “Mata boleh menangis, hati boleh bersedih, tetapi kita tidak berkata-kata kecuali hanya (dengan perkataan) yang diridhai oleh Rabb kita.” (HR. al-Bukhari). Allahu waliyyut taufiiq.[]

 

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 44

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *