Tips Menghadapi Masalah
LAZISWahdah.com 
– Dunia ini adalah tempat ujian bagi manusia. Sejatinya tempat ujian, maka tidak heran, jika di dalamnya penuh dengan beragam masalah. Allah berfirman;

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji, siapa diantara kalian yang paling baik amalannya.”. (al Mulk; 2)

Seorang guru yang baik, dalam membuat soal, ia akan membuat soal dengan tingkat kesukaran yang berjenjang dan variatif; mulai dari yang terendah hingga yang tersulit. Hal yang pasti bahwa ia tidak akan pernah membuat soal yang tidak akan sanggup diselesaikan oleh peserta didiknya.

Demikianlah Allah yang maha agung lagi maha bijak. Betapapun masalah dan ujian yang diberikannya kepada hamba, pasti ada penyelesaian dan pasti dapat terselesaikan. Alah berfirman;

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Tidaklah Allah menguji hamba melainkan dengan ujian yang akan sanggup mereka jalani.”. (al Baqarah; 286)

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya dalam satu kesukaran terdapat banyak jalan kemudahan.”. (as Syarh; 6)
Disebutkan dalam al Quran bahwa beberapa nabi dan Rasul pernah mengalami masalah yang tidak sederhana. Bagaimana mereka menghadapi masalah-masalah mereka itu. Diantaranya, Allah kekalkan dalam surat al Anbiyaa, sebagai pelajaran bagi seluruh hamba.

Nabi Ayyub, Allah uji Beliau dengan sakit yang sangat parah dalam waktu yang lama, anak-anak Beliau meninggal dan istrinya pun pergi meninggalkan Beliau. Ketika menghadapi masalah tersebut, Allah berfirman;

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Ingatlah Ayyub, ketika Beliau berdoa dan berkata kepada Rabbnya, Ya Allah saya tengah ditimpa penyakit berat yang sangat menyusahkanku. Dan Engkau adalah Dzat yang maha penyanyang dari seluruh yang menyayangi.”. (al Anbiyaa; 83)

Selanjutnya, nabi Yunus, disaat Beliau tidak sabar menghadapi kaumnya, Allah uji Beliau dengan memasukkannya ke dalam perut hiu. Di saat menghadapi masalah seperti itu, Allah berfirman;

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan ingatlah kisah nabiullah Yunus, ketika ia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya setelah itu. (Maka setelah mengujinya, dengan memasukkannya ke dalam perut hiu), ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap; bahwa tiada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, dan sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang dzhalim.”. (al Anbiyaa; 87)

Selanjutnya, nabi Zakariyya, Allah uji Beliau dengan kesendirian yang sangat panjang, tanpa keturunan. Disaat menghadapi ujian tersebut, Allah berfirman;

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

“Dan ingatlah kisah Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya; Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah waris yang paling baik.”. (al Anbiyaa; 89)
Lantas apa hasil dari doa-doa mereka itu ?. Terhadap doa nabiullah Ayyub, Allah berfirman;

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

“Maka Kamipun memperkenankan seruan nabi Kami Ya’kub. Kami sembuhkan penyakitnya. Kami kembalikan keluarganya kepada kepadanya. Dan Kami lipatgandakan bilangan mereka. Sebagai rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi seluruh hamba Allah.”. (al Anbiyaa; 84)
Terhadap doa nabiullah Yunus, Allah berfirman;

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kamipun memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”. (al Anbiyaa; 88)
Terhadap doa nabiullah Zakariyya, Allah berfirman;

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ

“Maka Kamipun memperkenankan doanya. Dan Kami anugrahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung.”. (al Anbiyaa; 90)
Diakhir rangkaian ayat yang menceritakan tentang mereka, Allah berfirman;

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan. Dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”. (al Anbiyaa; 90)

Bila demikian, maka kunci dalam menyelesaikan masalah yang menimpa kita sebagaimana petunjuk ayat-ayat dalam surah ini adalah;
1. Senantiasa bersegera dalam kebaikan
2. Doa dengan penuh harap akan rahmat Allah, yang disertai perasaan cemas terhadap adzab Nya.
3. Senantiasa menghadirkan perasaan khusyu’ dan menyadari akan pengawasan Allah dalam sekecil apapun perbuatan kita dan dimanapun kita berada.
Tiga hal inilah yang telah dilakukan oleh ketiga nabiullah yang telah disebutkan tadi. Dengannya, Allah berfirman pada masing-masing dari ketiganya;

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ

“Maka Kamipun memperkenankan doanya.”.

—-

Tulisan : Ustadz Muhammad Irfan Zein, Lc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *