jejak di padang pasir

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, termasuk dalam as sabiqunal awwalun (kelompok yang pertama memeluk Islam), ia juga salah satu dari sepuluh sahabat yang memperoleh berita gembira masuk surga ketika hidupnya. Beliau masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq radhiyallahu ‘anhu.

Thalhah adalah seorang pemuda Quraisy, ia memilih profesi sebagai saudagar. Pada suatu ketika Thalhah dan rombongan pergi ke Syam. Di Bushra, Thalhah mengalami peristiwa menarik yang mengubah garis hidupnya. Tiba-tiba seorang pendeta berteriak-teriak, “Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?”

“Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah.

“Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya.

“Ahmad yang mana?”

“Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Ini adalah bulan kemunculannya, dia adalah nabi terakhir. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya wahai anak muda,” sambung pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar ia langsung pulang ke Makkah.

Setibanya di Makkah, ia langsung bertanya kepada keluarganya, “Ada peristiwa apa sepeninggalku?”

“Ya, Muhammad bin Abdullah mengatakan dirinya Nabi dan Ibnu Abu Quhafah –maksud mereka adalah Abu Bakar- telah dan mengikutinya,” jawab mereka.

Thalhah berkata, “Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang ramah, penyayang dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami berteman baik, banyak orang menyukai majelisnya, karena dia ahli sejarah Quraisy,”

Thalhah langsung mencari Abu Bakar. “Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi Nabi dan engkau mengikutinya?” “Betul.” Abu Bakar menceritakan kisah Muhammad sejak peristiwa di gua Hira’ sampai turunnya ayat pertama. Abu Bakar mengajak Thalhah untuk masuk Islam. Usai Abu Bakar bercerita Thalhah ganti bercerita tentang pertemuannya dengan pendeta Bushra. Abu Bakar tercengang. Lalu Abu Bakar mengajak Thalhah untuk menemui Muhammad dan menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan pendeta Bushra. Di hadapan Rasulullah, Thalhah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sebagaimana para pemeluk Islam pada masa awal, ia tak terlepas dari penyiksaan dan teror dari para pembesar dan pemimpin kaum Quraisy untuk mengembalikannya ke agama jahiliah, padahal ia seorang hartawan dan terpandang di antara kaumnya. Setelah keislamannya diketahui oleh orang-orang Quraisy, Nufail bin Khuwailid, salah seorang pembesar yang terkenal dengan sebutan ‘Singa Quraisy’ mencari-cari dirinya. Mereka bertemu Thalhah sedang berjalan dengan Abu Bakar yang segera saja keduanya ditangkap dan disiksa. Mereka berdua diikat dengan satu tambang, kemudian diancam dan diintimidasi. Karena peristiwa ini, Abu Bakar dan Thalhah disebut sebagai ‘Al-Qarinain’, artinya sepasang sahabat yang mulia.

Thalhah juga mengalami penyiksaan dari ibunya sendiri, Sha’bah binti Hadramy. Tangan Thalhah diikatkan pada lehernya, kemudian diarak berkeliling di jalan-jalan kota Makkah, diikuti rombongan keluarganya. Ibunya mengikuti di belakangnya sambil mencaci maki dirinya. Walau disakiti dan dipermalukan oleh orang yang sangat dicintai dan dihormatinya, keyakinan dan keimanannya tidak bergeming. Bagaimanapun juga Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintainya daripada ibu dan sanak keluarganya yang lain.

Assyahidul Hayy, (syahid yang hidup)

Tidak hanya sampai disini saja cobaan dan ujian yang dihadapi Thalhah, semua itu tidak membuatnya surut, melainkan makin besar bakti dan perjuangannya dalam menegakkan Islam, hingga banyak gelar dan sebutan yang didapatnya antara lain Assyahidul Hayy, atau syahid yang hidup. Julukan ini diperolehnya dalam perang Uhud.

Saat itu barisan kaum Muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari sisi Rasulullah. Yang tersisa di dekat beliau hanya 11 orang Anshar dan Thalhah dari Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke bukit tadi dihadang oleh kaum Musyrikin. “Siapa berani melawan mereka, dia akan menjadi temanku kelak di surga,” seru Rasulullah.

“Aku Wahai Rasulullah,” kata Thalhah.

“Tidak, jangan engkau, kau harus berada di tempatmu.”

“Aku wahai Rasulullah,” kata seorang prajurit Anshar.

“Ya, majulah,” kata Rasulullah.

Lalu prajurit Anshar itu maju melawan prajurit-prajurit kafir. Pertempuran yang tak seimbang mengantarkannya menemui kesyahidan. Rasulullah kembali meminta para sahabat untuk melawan orang-orang kafir dan selalu saja Thalhah mengajukan diri pertama kali. Tapi, senantiasa ditahan oleh Rasulullah dan diperintahkan untuk tetap ditempat sampai 11 prajurit Anshar gugur menemui syahid dan tinggal Thalhah sendirian bersama Rasulullah, saat itu Rasulullah berkata kepada Thalhah, “Sekarang engkau, wahai Thalhah.”

Dan majulah Thalhah dengan semangat jihad yang berkobar-kobar menerjang ke arah musuh dan menghalau agar jangan menghampiri Rasulullah. Lalu Thalhah berusaha menaikkan Rasulullah sendiri ke bukit, kemudian kembali menyerang hingga tak sedikit orang kafir yang tewas.

Saat itu Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Jarrah yang berada agak jauh dari Rasulullah telah sampai di dekat Rasulullah. “Tinggalkan aku, bantulah Thalhah, kawan kalian,” seru Rasulullah.

Keduanya bergegas mencari Thalhah, ketika ditemukan, Thalhah dalam keadaan pingsan, sedangkan badannya berlumuran darah segar. Tak kurang 70 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing dan lemparan panah memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah. Karena itulah gelar syahid yang hidup diberikan Rasulullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa ingin melihat seorang laki-laki yang sudah meninggal (syahid) namun tetap berjalan di muka bumi maka hendaklah melihat Thalhah bin Ubaidullah.”

Sejak saat itu bila orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar, maka beliau selalu menyahut, “Itu adalah hari Thalhah seluruhnya.”

Al-Jaud wal Fayyadh (Pribadi yang Pemurah dan Dermawan)

Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita teladani. Ia adalah seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Pada suatu hari istrinya, Ummu Kultsum binti Abu Bakar ash-Shiddiq melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang istri segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, “… Sejak tadi aku hanya berpikir, aku bertanya kepada diriku. ‘Apa dugaan seseorang kepada Rabbnya jika dia tidur sementara harta sebanyak ini ada di rumahnya?”

Istrinya bertanya, “Lalu apa yang membuatmu bersedih? Apakah engkau lupa kepada orang-orang yang membutuhkan dari kaummu dan sahabat-sahabatmu? Jika pagi tiba maka bagi-bagikan ia kepada mereka.”

Lantas Thalhah menjawab, “Kamu adalah wanita yang diberi taufik anak dari laki-laki yang diberi taufik pula.”

Pagi pun tiba dan Thalhah telah meletakkan uang tersebut dalam beberapa nampan kecil dan kantong, dia membagi-bagikannya di antara fakir-miskin dari kaum Muhajirin dan Anshar.

Jaabir bin Abdullah bertutur, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta. Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, ” Thalhah kebaikan dan kebajikan”.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *