LAZIS Wahdah - Peserta Tahfizh Weekend

LAZISWahdah.com – Al-Quran adalah kitab pedoman dan petunjuk yang mesti dihafal, dipelajari dan diamalkan kandungannya oleh umat islam. Sebagaimana diisyaratkan dalam banyak ayat Al-Quran, diantaranya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Terjemahan QS. Al Isra’: 9) 

Dengan menghafal dan membawanya dalam dada, maka seseorang telah menutupi celah kewajiban kifayah yang diembankan oleh Allah Ta’ala atas umat ini untuk menjaga Kitab Suci-Nya, dan ia berhak menyandang gelar sebagai salah satu penjaga Al-Quran: “Sesungguhnya Kami menurunkan al-Dzikra (Al-Quran), dan sesungguhnya Kami sungguh akan menjaganya” (Terjemahan QS. Al Hijr : 13).

Allah Ta’ala telah menjaga Kitab Suci Al-Quran lewat dua cara: tulisan mushaf dan dada para penghafal Al-Quran. Namun penjagaan yang paling kokoh adalah lewat dada-dada para penghafal dan pengkajinya, karena mushaf-mushaf Al-Quran bisa saja punah dari masa ke masa atau dari suatu negeri tertentu dengan faktor peperangan atau faktor lainnya sebagaimana yang terjadi pada beberapa negeri islam di zaman penjajahan Uni Sovyet saat mushaf-mushaf dibakar, namun sebagian anak-anak umat Islam masih tetap bisa menghafal Al-Quran lewat kekuatan daya ingat para penghafal yang menyimpan ayat-ayat Al-Quran dalam dada mereka.

Ketahuilah bahwa sekedar Allah menitipkan penjagaan Al-Quran ini pada seorang muslim untuk selalu ia hafal, kaji dan amalkan, maka Dia telah mengistimewakan dirinya dengan satu keistimewaan yang tidak bisa ditandingi oleh keutamaan apapun, sebagaimana dalam firman-Nya: “…Lalu Kami mewariskan Kitab ini (al-Quran) terhadap orang-orang yang terpilih dari hamba-hamba Kami…” (Terjemahan QS. Fathir: 32).

Walaupun hamba-hamba terpilih yang ada dalam ayat ini adalah kaum muslimin secara umum, namun para penghafal dan para pengkaji Al-Quran-lah yang paling utama masuk dalam golongan hamba-hamba terpilih tersebut. Dalam hadis, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memilki kerabat dari kalangan manusia”, para sahabat bertanya: “Siapakah mereka?”, beliau menjawab: “Ahli Al-Quran, merekalah kerabat Allah dan orang-orang istimewa di sisi-Nya” (hasan, HR Ibnu Majah: 215, dan Ahmad: 1127).

Oleh karena itu, bukan suatu hal aneh bila Allah Ta’ala menetapkan mereka sebagai manusia-manusia terbaik, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”. (HR Bukhari: 5027).

Juga dalam sabdanya: “Sesungguhnya dengan Kitab inilah (Al-Quran), Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan derajat selain mereka”. (HR Muslim: 817).

Diantara sekian banyak keutamaan Al-Quran adalah adanya syafaat dari Al-Quran itu sendiri di akhirat kelak terhadap orang-orang yang menghafalnya, mengkajinya dan mengamalkan kandungannya, sebagaimana dalam hadis: “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat pada seorang hamba di hari kiamat kelak”. (HR Ahmad:6626, dan al-Hakim: 1/554, hasan li ghairihi).

Diantara sekian jenis syafaat Al-Quran tersebut adalah :

  1. Al-Quran sebagai pemberi syafaat untuk masuk surga. Dalam hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena Al-Quran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya (dengan tadabbur dan mengamalkannya). Bacalah al-Zahrawain (dua cahaya) yaitu surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya, keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut.” (HR. Muslim: 1910). 

    Syaikh Faishal al-Mubarak rahimahullah menjelaskan: “Hadits ini merupakan motivasi dan perintah agar kita terus membaca Al-Quran, dan bahwasanya ia memberikan syafaat bagi penjaganya yaitu orang-orang yang selalu membacanya, berpegang teguh dengan kandungannya, melaksanakan perintahnya, dan menjauhi larangannya”. (Tathriz Riyadh al-Shalihih: 579). 

    Al-‘Allamah AbdurRauf al-Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang hanya membaca atau menghafal ayat-ayatnya tanpa mempedulikan aplikasi kandungannya maka ia tidak dianggap sebagai penjaga Al-Quran yang berhak mendapatkan syafaatnya. (Faidh al-Qadir Syarh al-Jaami’ al-Shaghir: 2/66). 

    2. Al-Quran sebagai pengangkat derajat dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dikatakan pada orang yang menjadi penjaga Al-Qur’an: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu (tingginya derajatmu di surga) adalah tergantung pada akhir ayat yang engkau baca”. (shahih, HR Abu Daud: 1464 dan Tirmidzi: 3141). 

    Para ulama rahimahumullah menyatakan bahwa setiap seseorang membaca satu ayat, maka ia akan dinaikkan satu tingkatan surga hingga ia berhenti pada ayat terakhir hafalannya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Sesungguhnya jumlah tingkatan surga itu sebanyak jumlah ayat Al-Quran, dan tidak ada satupun penghuni surga yang lebih utama (tinggi tingkatannya) daripada pembaca Al-Quran”. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 29952, hasan). 

    3. Al-Quran menghindarkan penjaganya dari adanya hisab/penghitungan amalan yang buruk. Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (29955, dengan sanad shahih), Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengikuti petunjuknya, maka Allah akan memberinya hidayah didunia, dan melindunginya dari buruknya hisab amalan dihari kiamat kelak, karena Allah telah berfirman: “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat (didunia) dan sengsara (diakhirat)”, (QS Thaha: 123)”. 

    Dalam tafsir ayat ini, Imam Ibnu ‘Aasyur rahimahullah berkata: “Firman-Nya dalam ayat ini “maka ia tidak akan sesat” bermakna bahwa bila seseorang mengikuti petunjuk yang berasal dari Allah yang diturunkan lewat lisan Rasul-Nya maka ia akan diselamatkan dari adanya kesesatan didunia ini … adapun makna “tidak akan sengsara” adalah tidak mendapatkan kesengsaraan diakhirat nanti sebab bila ia telah selamat dari kesesatan didunia ini, maka dengan serta merta ia juga akan selamat dari kesengsaraan diakhirat kelak”. (Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir: 16/330-331, ringkasan). 

    4. Kedua orangtua penjaga Al-Quran mendapatkan syafaat kemuliaan diakhirat kelak. Dalam hadis disebutkan: “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari seandainya berada dirumah-rumah kalian di dunia ini. Maka bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai (ganjaran pahala) orang yang mengamalkannya?” (HR Abu Daud: 1453, hasan li ghairihi). 

    Hadis ini menjelaskan secara gamblang bahwa keutamaan ini hanya didapatkan oleh kedua orangtua penjaga Al-Quran yang membaca atau menghafal dan mengamalkannya. Syaikh Abdul’Aziz al-Rajihi hafidzhahullah berkata: “Para penjaga Al-Quran adalah orang-orang yang mengamalkan kandungannya meskipun mereka tidak menghafalnya di luar kepala, sebab itu barangsiapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan kandungannya maka ia sudah termasuk kerabat Allah secara khusus baik ia menghafalnya di luar kepala atau tidak, namun bila ia menghafalnya maka tentunya sangat utama, dan bila ia tidak menghafalnya dan hanya selalu membacanya lewat mushaf dengan selalu mengamalkan kandungannya, maka ia termasuk dalam golongan penjaga Al-Quran”. (Syarah Sunan Ibnu Majah: pel.14/5). 

    Inilah beberapa jenis syafaat al-Quran terhadap para penjaganya di akhirat kelak, semoga kita semua termasuk dalam golongan yang diberikan syafaat olehnya dihadapan Allah Ta’ala kelak, aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *