Oleh: Muhammad Scilta Riska.

Seorang desainer Internasional asal Jepang pernah bersyair,
“Un arbe c’est vert. Tous les arbres sout verts. On a tellement vu d’arbress verts. Que I’on oublie qu’il existe.Aussides abres roses. Mais si tous les abres etaient roses. Je vous aimais parle”.
“Pohon itu hijau. Pepohonan itu hijau . Kita terlalu sering melihat pohon hijau . Sehingga kita sering lupa bahwa, ada pula pohon merah. Tetapi bila semua pohon berwarna merah. Aku akan senang berkisah padamu. Tentang pohon hijau. Betapa indahnya dunia ini”.

Sang seniman, Kenzo Takada ingin mengatakan bahwa, “Keindahan dan kebahagiaan ternyata kesederhanaan itu sendiri”. seperti halnya pepohonan dan dedaunan  hijau di sekeliling kita. Pernahkah anda berfikir hijau adalah warna terindah? Bagaimana jika seluruh warna daun itu merah jambu? Tinggal di gurun pasir tanpa pepohonan hijau sudah cukup membuat kita bosan. Sungguh kesibukan, kerumitan dan kemewahan telah memalingkan kita dari kesederhanaan yang indah itu!

Banyak orang menginginkan kebahagiaan, namun dengan cara rumit, berbelit bahkan berbuat maksiat. Padahal betapa sederhana kebahagiaan itu. Berapa banyak orang berusaha menangis agar bisa bahagia.

Lebih dari itu, “Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah” (al-Kahfi:31).

Ada ribuan warna, namun  hijaulah warna pakaian terindah dan kebahagiaan abadi. Tentu keindahan dan kebahagiaan surga belum pernah terpikirkan oleh siapapun!

Keindahan dan kebahagiaan  bukanlah sesuatu yang rumit. Semua  berawal dari kesederhanaan. Resepnya cukup sederhana, “Nikmatilah hidup ini sebagai karunia-Nya semata.” Setiap ujian ada hikmah dibaliknya. Seorang muslim ketika ditimpa musibah, maka ia akan bersabar. Disaat mendapatkan kenikmatan ia lalu bersyukur, sederhana bukan?
Senyum tulus, sapaan dan salam hangat itu sudah cukup membuat orang lain bahagia bertemu anda. Ucapan ringan, Subahanallah, alhamdulillah, wa Laa ilaha illallah wallahu akbar sudah bisa menjadi pemberat amal di hari kemudian. Kegelapan karena lampu padam sudah cukup bagi seorang Abdullah ibnu Mubarak untuk merenungi makna kehidupan dan ia pun lalu menangis dalam keheningan. Bagaimana keadaannya kelak di alam kubur? Boleh jadi infaq, sedekah yang sedikit tapi berkesinambungan itulah hakikat harta anda kelak. Di hari dimana tidak bergunanya harta dan anak-anak.
Dan begitu banyak hal-hal sederhana tapi berkelanjutan bisa menjadi lebih besar di sisi-Nya. Apalagi jika semua itu dibalut dengan keikhlasan, keimanan dan ketaqwaan. Maka warnailah keindahan dan kebahagiaan hidup anda dengan sebuah kesederhanaan. Dengan taufik dan seizin Allah tentunya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *