Faisal Mursila, S.Pd. M.Pd.I.

Sebuah wadah plastik seukuran tempat sabun colek, turut ‘menghiasi’ meja dan rak buku di kediaman Ihsan. Di sisi wadah itu tertulis pesan sedekah harian untuk membantu pembebasan lahan dakwah dan pendidikan di kelurahannya. Demi mendukung program mulia tersebut, bersama teman-teman pengajiannya, Ihsan memang sengaja membuat dan menyimpan wadah tersebut di rumah-rumah mereka. Tabungan itu sengaja diletakkan di tempat yang mudah terlihat untuk mengingatkan dirinya agar bisa rutin bersedekah, disamping membiasakan kepada istri dan juga melatih anak-anaknya agar gemar berinfak.

Sepekan sekali, ihsan bersama anggota pengajian tahsinul qiraah lainnya berkumpul di masjid perumahan untuk menyetorkan tugas hafalan dan ‘tabungan keluarga’nya itu. Bagi Ihsan, melakukan amalan yang sedikit, seperti bersedekah meskipun seribu rupiah sehari, namun kontinu akan membuat amalan tersebut langgeng.

Ada hal yang menarik dari ajaran Al-Islam yang dipahami Ihsan dari pengajian yang juga rutin dihadirinya. Bagi orang-orang beriman yang sudah memiliki ’amalan rutin yang biasa dikerjakan dengan tekun, secara kontinyu. Sebuah hadits menyatakan bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan atau safar, maka segenap kebiasaan rutinnya akan tetap dicatat sebagai ganjaran/pahala di sisi Allah walaupun ia sebenarnya tidak mengerjakannya. Seperti kita ketahui bahwa penyakit seringkali menghalangi kita dari berbuat optimal sebagaimana saat kita sedang sehat wal ’afiat. Begitu pula dengan orang yang sedang dalam perjalanan. Tabiat safar seringkali menghalangi seseorang dari sanggup mengerjakan perbuatan rutin yang biasa ia kerjakan saat sedang mukim di satu tempat tidak sedang safar.

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau sedang safar (bepergian), maka dicatat untuknya ‘amal perbuatan yang biasa ia kerjakan seperti di waktu ia sehat dan tidak sedang bepergian.” (HR Bukhari)

Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bahkan pernah menyatakan bahwa perbuatan yang sedikit asal dikerjakan secara kontinyu, terus-menerus lebih disukai Allah daripada perbuatan yang banyak/besar namun karena dirasa berat, akhirnya hanya dikerjakan seseorang secara musiman saja. Ketika musimnya sedang semangat ia akan mengerjakannya. Namun ketika musimnya sedang lesu, maka ia akan tinggalkan perbuatan tersebut. Nabi shallallahu ’alaih wa sallam bersabda:

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى

 تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR. Abu Dawud).

Seorang Sahabat pernah ditegur Nabi shallallahu ’alaih wa sallam karena ia ketahuan pernah shalat malam namun kemudian semangatnya sempat memudar. Maka Nabi shallallahu ’alaih wa sallam langsung bersabda kepadanya:

يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan. Dulu ia (rajin) sholat malam, kemudian ia tinggalkan shalat malam.” (HR. Bukhari)

Lebih Langgeng Dikerjakan Bersama

Forum, paguyuban ataupun komunitas sedekah dan pencinta al-Quran belakangan ini memang bermunculan dan menjadi trend yang patut disyukuri.

Amal mulia yang dikerjakan secara bersama-sama memang memiliki banyak kelebihan. Kontroling yang lebih efektif; di mana kita dapat saling menasehati, saling mengoreksi dan saling memotifasi diantara peserta pengajian untuk dapat tetap menjaga semangat beribadah. Sebab peluang semangat yang mengendor juga kadang muncul. Di saat itulah, kita butuh penguatan spirit ibadah, dan untuk itu, akan lebih mudah jika dikerjakan bersama-sama.

Kadang kita memang mengalami masa semangat dan kadang pula futur (malas) beramal. Agar amalan kita terus menerus ada pada masa-masa tersebut, maka kita dianjurkan beramal yang rutin walaupun itu sedikit. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.”(al-Hadits) .

Amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan juga tidak terbatas pada sedekah dan tilawah saja, kita dapat memilih amalan-amalan shalih yang dapat kita kerjakan. Mengenai amalan ini, sebuah hadits berikut ini dapat kita jadikan referensi.

Diriwayatkan oleh Bukhari, dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu anhu, yang artinya, dia berkata, “Kekasihku (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam) telah berwasiat kepadaku tentang tiga perkara agar jangan aku tinggalkan hingga mati; Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dalam keadaan sudah melakukan shalat Witir.”

Dari Abu Darda radhiallahu anhu, dia berkata, “Kekasihku telah berwasiat kepadaku tentang tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan selama hidupku; Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dan tidak tidur sebelum aku menunaikan (shalat) Witir.” (Terjemahan HR. Muslim)

Wasiat Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Darda’ dan Abu Hurairah radhiallahu ’anhuma menunjukkan akan keutamaan Shalat Dhuha dan banyak pahalanya serta penekanannya. Oleh karena itu beliau berdua senantiasa menjaganya dan tidak (pernah) meninggalkannya.

Nah, sidang pembaca yang semoga dirahmati Allah, akhirnya, semoga Allah menganugerahi kita ganjaran dan ketenangan hati atas amalan-amalan yang selalu dicintai oleh-Nya. Aamiin.

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 19

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *