Oleh: Marzuki Umar

Adalah Thalhah bin Ubaidillah at-Taimi radhiyallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang digelari sebagai Thalhah al-Fayyadh (Thalhah yang gemar berinfaq) dan Thalhah al-Juwd (Thalhah yang dermawan). Bukan tanpa sebab ia mendapatkan gelar tersebut. Puteranya Musa bin Thalhah menceritakan bagaimana sosok sang ayah yang dikutip oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitab siyarnya.

Suatu saat Thalhah baru saja kembali dari Yaman usai melakukan perniagaan dan membawa pulang uang sejumlah 700.000 dirham (senilai dengan 29,75 kilogram emas), angka yang luar biasa untuk saat sekarang apalagi di jaman dahulu. Dengan perbendaharaan yang demikian banyak, bukannya bahagia, Thalhah malah galau. Hatinya gelisah, ia tidak mampu memejamkan mata. Bukan karena takut rumahnya akan disatroni maling, dan membawa harta tersebut, sama sekali bukan karena itu.

Ia khawatir kalau Allah tidak ridha dengannya saat nyenyak tidur bersama dengan harta sebanyak itu. Beruntung Thalhah memiliki pendamping wanita shalihah, yang bukannya menuntut banyak kepada suaminya, malah meminta sang suami untuk menyedekahkan harta tersebut.

Ummu Kultsum puteri dari Abu Bakar memberikan usul kepada sang suami. “Mana bentuk pedulimu kepada sahabat-sahabatmu? Jika fajar telah terbit, siapkanlah piring-piring! Lalu isilah piring-piring tersebut dengan uang itu dan bagikanlah kepada sahabat-sahabatmu!”

Thalhah menerima saran dari istrinya, esoknya ia membagi uang tersebut pada setiap piring dan mengantarkannya pada sahabat-sahabatnya. Saat harta tersebut hampir habis, istrinya menghampiri dan bertanya, “Tidakkah kita juga mengambil bagian dari harta tersebut?

Subhanallah, Thalhah hampir saja lupa  menyisakan untuk keluarganya, lupa untuk kebutuhannya sendiri.

Saudaraku…

Thalhah tahu betul bahwa hartanya tidaklah pergi, ia hanya mendepositokan uang yang banyak itu di jalan Allah untuk ia temui kelak di hari akhir. Dengan harta yang banyak di dunia bukan justru membuatnya lebih bahagia dan lebih nyenyak tidur, ia malah  khawatir harta sebanyak itu bersamanya di saat begitu banyak sahabat-sahabatnya yang membutuhkan uluran tangan.

Begitulah harusnya kita mengambil teladan dari para as-salaf ash-shalih, mungkin tidak akan pernah sama persis dengan mereka, namun mari kita meniti jalan kebaikan yang pernah mereka lalui.

Terakhir, mari renungi ayat Allah Azza wa Jalla, Sang Penguasa rezeki para hamba:

“Setan menjanjikan (menakut-nahkuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 268)

Madinah, 10 Rabi’ul Awwal 1437 H.

 

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *