Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.

Negeri yang aman merupakan nikmat Allah yang besar terhadap suatu kaum. Ia laksana mahkota penghargaan dari Allah untuk negara yang telah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Perasaan ingin mendapat rasa aman merupakan fitrah seluruh manusia, sebab mereka tidak ingin hidup dalam ancaman dan ketakutan.

Oleh karenanya, manusia melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan rasa aman itu. Hanya saja, kadang upaya-upaya yang mereka lakukan itu salah, sehingga justru menimbulkan masalah yang melahirkan kekhawatiran dan ketakutan.

Semua orang yang hidup dalam satu negeri memiliki peran untuk mewujudkan kemanan, mulai dari pemerintah, ulama dan dai, orangtua dan masyarakat secara umum.

Peran Pemerintah Dalam Mewujudkan Kemanan

Pemerintah memiliki peran yang sangat besar dalam terciptanya keamanan, sebab mereka adalah para pengatur kebijakan dan penegak hukum. Baik atau buruknya rakyat dalam pemerintahan sangat tergantung pada pemimpin. Para ahli hikmah berkata: “Manusia itu mengikuti pemimpin-pemimpin mereka dalam kebaikan dan keburukan”. (Tarthib al-Afwah Bidzikri Man Yuzhilluhumullah: 1)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Manusia yang paling dicintai di Allah adalah pemimpin yang adil, sedang manusia yang paling dibenci Allah adalah pemimpin yang buruk. Hal ini dikarenakan dengan baiknya pemimpin itu, maka rakyatpun akan menjadi baik. Sedangkan rusaknya ia, itulah yang menyebakan rusaknya rakyat”. ( At-Ta’liq Ala as-Siyasah asy-Syar’iyyah: 72)

Dari sini, pemimpin haruslah berupaya untuk berlaku baik dan adil pada rakyatnya. Bentuk perbuatan adil itu adalah dengan menerapkan hukum yang tegas, seimbang dan tidak tebang pilih pada rakyatnya. Ketika hukum ditegakkan secara tegas dan adil, maka hal ini akan menuntun pada keamanan suatu negeri.

Ketegasan itu akan menjadikan manusia berpikir ketika hendak berbuat zalim, sebab ada hukuman tegas yang menantinya jika ingin melaksanakan keinginanya. Sebaliknya, jika hukum tidak adil dan tidak tegas, niscaya akan semakin banyak terjadi perbuatan kriminal yang menakutkan.

Oleh karena pentingnya ketegasan dan keadilan itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَلِهَذَا قِيلَ : إنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً ؛ وَلَا يُقِيمُ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُسْلِمَةً . وَيُقَالُ : الدُّنْيَا تَدُومُ مَعَ الْعَدْلِ وَالْكُفْرِ وَلَا تَدُومُ مَعَ الظُّلْمِ وَالْإِسْلَام

“Dikatakan bahwa sesungguhnya Allah akan menegakkan suatu daulah (negara) yang adil walau negara itu adalah negara kafir dan tidak akan menegakkan negara yang zalim walau ia adalah negara islam. Dikatakan pula bahwasanya, dunia ini akan senantiasa berlanjut dengan adanya keadilan walaupun itu kafir dan tidak akan berlanjut bersama dengan kezaliman walaupun itu islam”. ( Majmu’ Fatawa: 28/146)

Perkataan Ibnu Taimiyah ini tidak berarti dirinya membenarkan kekafiran. Hanya saja, perkataan ini menunjukkan begitu pentingnya sikap adil dan tercelanya sikap meninggalkan keadilan itu. Sebab keadilan itu hakikatnya adalah bagian dari keislaman itu sendiri. Oleh karenanya, jika ada orang-orang islam yang tidak menjalankan syariat agamanya, maka mereka telah berbuat yang tidak adil. Inilah gambaran yang terjadi hari ini, baiknya ajaran islam terhijabi oleh buruknya akhlak dan perbuatan kaum muslimin, padahal islam berlepas dari perbuatan mereka.

Oleh karenanya, pemerintah hendaklah berupaya agar keadilan itu ditegakkan dan syariat Allah dilaksanakan. Sebab tidak ada aturan yang lebih adil dan lebih sesuai untuk membawa manusia pada keamanan, kecuali hukum yang dibuat oleh Sang Pencipta manusia itu sendiri.

Peran Para Ulama Dan Dai

Salah satu faktor penudukung terwujudnya keamanan suatu negeri adalah adanya para ulama dan dai. Tugas mereka membina masyarakat, mengajari mereka agama, akhlak serta budi pekerti yang benar.

Ketika tugas ini tidak terlaksanakan dengan baik, niscaya manusia akan berada dalam gelapnya kejahilan, hingga tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Jadilah mereka hidup dalam kezaliman, karena tidak adanya cahaya ilmu yang menerangi mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya:

Diantara ciri-ciri hari kiamat adalah ketika ilmu agama ini semakin berkurang (dipelajari-pent), kejahilan merajalela, perzinahan merajalela, wanita akan semakin banyak, dan jumlah laki-laki akan semakin sedikit. Sampai-sampai, lima puluh orang wanita akan dipimpin oleh seorang laki-laki”. ( HR. Bukhari)

Oleh karena itu, ulama dan dai haruslah mampu melaksanakan amanah yang ada di pundak mereka dengan baik. Sebab mereka menjadi pilar pengokoh umat di tengah masyarakat.

Peran Orangtua dan Masyarakat Secara Umum

Dalam kehidupan bermasyarakat, pembinaan umat demi mewujudkan keamanan suatu negeri tidak hanya menjadi tugas ulama dan dai saja, akan tetapi juga menjadi tugas para orang tua. Mereka menjadi madrasah utama dalam pembinaan itu. Mereka berperan mendidik anak-anak dan keluarganya pada kebaikan dalam lingkungan keluarganya. Sebab jika tidak, keluarganya itu justru akan dididik oleh lingkungan yang buruk.

Sayangnya, amanah ini hampir saja dilupakan oleh para orang tua, hingga mereka membiarkan anak-anak mereka didik oleh zaman yang keras, yang tidak mengetahui akhlak dan agama. Akhirnya, lahirlah anak-anak yang tumbuh menjadi pelaku geng motor, begal, konsumsi narkoba dan perilaku buruk lainnya yang sering meresahkan masyarakat.

Luqman al-Hakim, ia bukan seorang Nabi, bukan pula manusia terpandang. Ia bahkan memiliki bentuk fisik yang kurang disenangi orang. Namun, didikan baiknya terhadap anaknya, Allah abadikan di dalam al-Qur’an, hingga orang-orang bisa membacanya hingga hari kiamat. Orang-orang akan mengulangi kata-katanya itu sepanjang masa.

Demikianlah orangtua saleh yang menjalankan amanahnya, walau mereka bukanlah orang terpandang dan tidak diperhatikan oleh manusia, tapi amalan salehnya bisa menjadi sesuatu yang akan selalu dikenang dan dirinya akan diperkenalkan pada seluruh penduduk bumi dan langitNya.

Semoga kita bisa mewujudkan negeri yang aman lagi berkah dalam naungan rahmat dari Allah Ta’ala.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *