Oleh: Ustadz Ayyub Soebandi

Masjid adalah rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, bahkan merupakan tempat di bumi yang paling Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- yang diriwayatkan oleh Muslim  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِإِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk membangun masjid, baik membangun secara fisik ataupun memakmurkannya dengan ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS. An-Nur : 36).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memuji orang-orang yang memakmurkan masjid dan memberikan mereka petunjuk sebagaimana dalam firmanNya :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-Taubah : 18).

Setelah mengetahui keutamaan memakmurkan masjid, maka perlu untuk kita mengetahui adab-adab berkaitan dengan masjid. Berikut kami sebutkan beberapa adab berkaitan dengan masjid dimulai dari berangkat menuju ke masjid dan ketika di dalam masjid.

  1. Berwudhu di rumah sebelum berangkat, sebagaimana hadits Utsman -radhiyallahu’anhu- riwayat Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوبَهُ

“Barangsiapa yang berwudhu untuk shalat dan dia sempurnakan wudhunya, kemudian dia menuju masjid untuk shalat fardhu. Lalu dia ikut shalat berjamaah atau shalat di masjid maka Allah mengampuni dosa-dosanya”.

  1. Memakai pakaian yang sopan dan bersih, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Wahai bani Adam, gunakanlah perhiasan kalian setiap kali menuju masjid” (Al-A’raf: 31).

  1. Memakai minyak wangi dan menghindari semua bau yang tidak sedap, sebagaimana hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat An-Nasa’i dengan sanad yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan kesenanganku dari dunia ada pada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk hatiku ada dalam shalat”.

Dalam hadits Jabir -radhiyallahu’anhu- riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَأَذَّى، مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ

Barangsiapa makan dari pohon berbau busuk ini (bawang merah dan bawang bakung), maka janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa terganggu sesuatu yang manusia juga merasa terganggu darinya (disebabkan baunya)”.

  1. Berangkat di awal waktu agar mendapat shaf pertama, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- riwayat Al-Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا

“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.”

  1. Membaca do’a keluar rumah agar terjaga dari syetan, sebagaimana hadits Anas -radhiyallahu’anhu- riwayat At-Tirmidzi dengan sanad yang Shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَالَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ: بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، يُقَالُ لَهُ: كُفِيتَ، وَوُقِيتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ

“Barangsiapa yang ketika keluar dari rumahnya mengucapkan; BISMILLAAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (dengan nama Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan dengan pertolongan Allah) maka dikatakan baginya, engkau telah mendapatkan kecukupan, telah mendapat pertolongan dan syetan menjauh darimu”.

  1. Mendahulukan kaki kanan ketika memakai alas kaki, sebagaimana hadits Aisyah -radhiyallahu’anha- riwayat Al-Bukhari

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan selainnya”.

  1. Berjalan menuju masjid dengan tenang walaupun terlambat, sebagaimana hadits Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- yang Muttafaqun ‘alaihi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

“Jika kalian mendegar iqamah, maka berjalanlah dengan tenang dan khusyu’ menuju shalat, jangan tergesa-gesa. Apa saja yang kalian dapati dari imam, maka ikutilah. Sedangkan yang luput dari kalian, maka sempurnakanlah”.

  1. Membaca do’a menuju masjid, diantara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah :

اللّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِيْ نُوْراً، وَفِي لِسَانِي نُوْراً، وَفِي سَمْعِي نُوْراً، وَفِي بَصَرِي نُوْراً، وَمِنْ فَوْقِي نُوْراً، وَمِنْ تَحْتِي نُوْراً، وَعَنْ يَمِيْنِي نُوْراً، وَعَنْ شِمَالِي نُوْراً، وَمِنْ أَمَامِي نُوْراً، وَمِنْ خَلْفِي نُوْراً، وَاجْعَلْ فِي نَفْسِي نُوْراً، وَأَعْظِمْ لِي نُوْراً، وَعَظِّم لِي نُوْراً، وَاجْعَلْ لِي نُوْراً، وَاجْعَلْنِي نُوْراً، اللّهُمَّ أَعْطِنِي نُوْراً، وَاجْعَلْ فِي عَصَبِي نُوْراً، وَفِي لَحْمِي نُوْراً، وَفِي دَمِي نُوْراً، وَفِي شَعْرِيْ نُوْراً، وَفِي بَشَرِيْ نُوْراً

Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di lisanku, cahaya bagi pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, cahaya di jiwaku, perbesarlah cahayaku, jadikanlah untukku cahaya, jadikanlah aku penuh cahaya, ya Allah berikanlah aku cahaya, jadikanlah cahaya di ruas badanku, cahaya di dagingku, cahaya di darahku, cahaya di rambutku, dan cahaya di kulitku.

اللّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِي قَبْرِيْ . . وَنُوْرًا فِي عَظَامِي

Ya Allah, jadikanlah cahaya untukku di kuburku… cahaya di tulangku.

وَزِدْنِي نُوْرًا , وَزِدْنِي نُوْرًا , وَزِدْنِي نُوْرًا

Tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku, tambahkanlah cahaya untukku…

وَهَبْ لِيْ نُوْرًا عَلَى نُوْر

Berikanlah aku cahaya di atas cahaya []

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 25

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *