Askar Fatahuddin

Kata indah dalam alqur’an seringkali digunakan untuk mengambarkan surga dan para penghuninya
“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya”. QS. Al furqan: 24
“Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah”. QS. Al Kahfi 18
“dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah.” QS.  Ad Dukhan: 26
Keindahan adalah harapan setiap insan untuk memilikinya, karena akan menjadikannya hidupnya lebih bermakna dan lebih berarti walau hakikinya adalah Allah yang memilikinya dan Dia berkehendak penuh untuk memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, sebagaimana hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
“innallaha jamil yuhibbul jamal”: Sungguh Allah itu indah dan mencintai keindahan.
Secara spesifik kita akan menyusuri makna keindahan dalam berbagi, bagaimana keutamaan dalam qur’an dan sunnah dan juga bentuk-bentuknya.
1. Jalan Mendapatkan Surga
Dari Abdullah Ibnu Salam bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai manusia sebarkanlah ucapan salam hubungkanlah tali kekerabatan berilah makanan dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur engkau akan masuk surga dengan selamat.” Hadits shahih riwayat Tirmidzi.
Adakah yang cita-cita manusia yang lebih tinggi dari menggapai surgaNya, ataukah kita belum beriman sepenuhnya kepada tempat terindah yang Allah telah siapkan tersebut, karena himmah kita mengejarnya masih terlalu rendah dibandingkan orang yang hanya berorientasi dunia yang mengalokasikan waktunya lebih dari 2/3 harinya, olehnya jadikan jalan berbagi ini dengan berinfaq, bersedekah dan mengeluarkan zakat sebagai jalan untuk mndapatkan tempat terindah tersebut.
2. Jalan untuk saling cintai-mencintai.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saling memberilah kalian niscaya kalian kan saling mencintai”. HR. Bukhari
3. Menunjukkan kedudukan islam yang sangat tinggi dengan akhlak yang mulia.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Amal yang paling banyak menentukan masuk surga ialah takwa kepada Allah dan perangai yang baik.” Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih menurut Hakim.
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik.” Riwayat Abu Ya’la. Hadits shahih menurut Hakim.
4. Mendapatkan pertolongan Allah dengan Membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhan mereka
“Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (Shahih Al-Jami)
“Allah akan selalu menolong hambanya selama hambanya selalu menolong saudaranya.” (Muslim)
Sungguh jika saya berjalan bersama saudara saya yang muslim dalam rangka memenuhi kebutuhan-nya hal itu lebih saya sukai dari i’tikaf di masjid selama sebulan (Silsilah shahihah)
Siapa yang berjalan bersama saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya hingga terpenuhi kebutuhannya, maka Allah akan memantapkan kakinya pada hari banyak kaki-kaki yang tergelincir (hari kiamat)
5. Memberi kelonggaran kepada yang berutang mendapat pahala  sedekah  setiap hari sebesar dua kali lipat dari piutangnya sampai terlunasi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang memberi tempo kepada seseorang yang belum mampu membayar utang maka setiap hari ia memiliki sedekah sampai utang itu jatuh tempo. Jika jatuh tempo (dan orang itu) belum juga mampu membayar utangnya kemudian ia memberi kelonggaran lagi, maka setiap hari ia bersedekah dua kali lipat dari harta yang dipinjamkannya”. (Hadits dianggap shohih oleh Hakim dan disepakati oleh Albani)
6. Setiap buah dari tanaman yang dinikmati makhluk menjadi sedekah bagi penanamnya sampai hari kiamat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda dari Jabir  radhiyallahu ‘anhu: “Seseorang muslim yang menanam tanaman kemudian ia makan dari hasil tanaman itu maka termasuk sedekah baginya. Dan apapun yang dicuri dari tanaman itu maka ia termasuk sedekah baginya dan apapun yang dimakan oleh binatang maka ia termasuk sedekah baginya, dan apapun yang dimakan oleh burung dari hasil tanaman itu maka ia termasuk sedekah baginya, serta jika hasil tanaman itu di ambil orang maka itu juga termasuk sedekah baginya.” (HR. Muslim).
Dalam riwayat lain: “Seseorang muslim yang menanam tanaman kemudian hasil tanaman itu dimakan oleh manusia, binatang maupun burung maka ia merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.” (dari Anas radhiyallahu anhu)
7. Sedekah akan dibalas dengan pahala dan akan diganti oleh Allah barang yang  disedekahkan itu.
Allah berfirman: “Dan barang apa saja yang engkau nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Qs. Saba : 39)
Menikmati Keikhlasan
Dalam hal ini, para sahabat ridwanullahi ‘alaihim ajma’in telah mencontohkan hal ini bahkan sangat sulit untuk kita mengalahkan kebaikan-kebaikan mereka, diantaranya adalah Abu Bakar as shiddiq yang menginfakkan seluruhnya hartanya, disusul Umar Bin Khattab dengan separuh hartanya dan selanjutnya Utsman Bin Affan dengan sepertiga hartanya.
Dan banyak kisah yang lainnya, pengorbanan dan keinginan untuk berpartisipasi dalam segala kebaikan tidak hanya ditunjukan oleh sahabat-sahabat yang kaya, tapi juga sahabat-sahabat yang miskin. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan para sahabat untuk menginfaqkan harta mereka fisabilillah menjelang sebuah peperangan, ada diantara sahabat yang kedua tangannya puntung dan tidak phttps://laziswahdah.org/wp-admin/post-new.phpunya harta untuk dia infaqkan, maka dengan semangat keimanannya yang membuncah ia kemudian datang kepada seorang Yahudi untuk minta dipekerjakan demi mendapatkan upah. Akhirnya ia bersepakat untuk menimbakan air dari sumur kemudian mengangkatnya ke rumah yahudi tersebut semalam penuh dengan upah segenggam kurma.
Bayangkanlah saudaraku, ia menimba air tesebut dengan apa? Tentulah dengan menggigit tali timba tersebut, namun inilah yang disebut dengan perjuangan dan pengorbanan atas dasar iman yang begitu banyak kaum muslimin tidak memahami makna kebahagian di dalamnya.
Di saat dakwah yang haq ini dengan segala keterbatasannya terus berusaha melawan dakwah bathil, dukungan dana adalah hal sangat besar dibutuhkan untuk mengusungnya. Maka alangkah baiknya jika sebagian dari harta yang Allah titipkan kepada kita diinfakkan di jalan Allah dengan membantu kaum muslimin dan perjuangan dakwah Islam. Wallahu a’lam []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *