Oleh: Ustadz Ir. Muhammad Qasim Saguni, MA.

Harus diakui bahwa nikmat terbesar yang dianugerahkan oleh Allah Jalla Wa ‘Ala kepada manusia adalah al-Qur’an. Apa jadinya manusia jika tidak diturunkan al-Qur’an? Apa jadinya bumi ini jika al-Qur’an tidak diwahyukan? Dan apa jadinya kehidupan manusia jika al-Qur’an diabaikan?

Sederet pertanyaan itu hendaknya menjadi renungan untuk memantik kesadaran kita betapa al-Qur’an adalah merupakan hadiah dan nikmat agung dari Sang Pencipta kepada umat manusia.

Terjemahan dua Ayat di bawah ini membantu kita untuk merenung dan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Terjemahan al-Qur’an Surat al-A’raf (7), ayat 179)

Dan Allah berfirman dalam al-Qur’an surah Thaaha (20), ayat 124-126, terjemahannya adalah:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.”.

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah membuat suatu kesimpulan yang sangat menyentak insting kemanusiaan kita:

“ Kalaulah bukan karena Ulama, maka jadilah manusia seperti binatang” (Lihat Kitab Minhaju Al-Qashidin).

Ulama adalah golongan manusia mulia yang merupakan pewaris sah dari para Nabi, mereka tidak mewarisi harta dan nikmat keduniaan, tetapi mereka mewarisi ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah.

Karena itu, perkataan al-Hasan al-Bashri di atas, sekalipun tidak menyebutkan lafadz “Al-Qur’an”, tetapi di dalam kata “Ulama” tersirat makna “Al-Qur’an” sebagaimana firman Allah Jalla Wa ‘Ala di surat Al-A’raf (7) ayat 179.

Mengapa Harus Akrab dengan al-Qur’an

Kesadaran bahwa al-Qur’an adalah nikmat terbesar bagi manusia harus diikuti dengan langkah nyata yang menunjukkan bahwa memang al-Qur’an adalah kebutuhan primer dalam kehidupan umat manusia. Kesadaran akan pentingnya al-Qur’an tanpa diikuti dengan langkah nyata, akan mengakibatkan kehidupan kita kehilangan segalanya. Langkah itu disimpulkan dengan satu kalimat singkat: “Menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat Akrab”.

Rasulullah shahallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (dalam terjemahan hadits) tentang orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat akrab:

“Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya”. (HR. Muslim, No.1337)

Hadits ini memberikan pelajaran bahwa, salah satu keutamaan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat di dunia ini adalah memperoleh syafa’at al-Qur’an. Syafa’at adalah merupakan kebutuhan utama setiap Muslim di akhirat, sebab dengan syafa’at, Allah akan memasukkan ia ke dalam syurgaNya.

Al-Qur’an juga akan menentramkan hati bagi orang-orang beriman yang sering berinteraksi dengannya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d (13) ayat 28).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat/merenungkan al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)

Jadi, sebaik-baik sahabat karib adalah al-Qur’an yang dengannya akan membuat hati kita tentram, bahagia dan lebih dari itu menjadi pembela kita di hari kiamat kelak.

Metode Akrab dengan Al-Qur’an

  1. Menjadikan sebagai bacaan harian
  2. Meluangkan waktu secara terjadwal untuk mentadabburinya (memahami dan mengkajinya)
  3. Mendakwahkannya, yaitu menjadikan sebagai bahasan dan referensi utama dalam berdakwah
  4. Mengamalkannya, yakni mengejawantahkan ajaran-ajaran al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam lingkup pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
  5. Memperjuangkan agar isinya menjadi rujukan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Penutup

Alangkah bahagianya orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai sebaik-baik sahabat. Tiap hari ia berinteraksi dengan Kalam Rabb-nya. Membacanya, mengamalkannya, menghafalnya, mempelajarinya, bahkan mengajarkannya. Ia menjadi sebaik-baik manusia sebagaimana sabda Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Semoga kita termasuk mendapat predikat tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *