LAZISWahdah.org – Allah Ta’ala telah menciptakan sekaligus menanggung rezeki semua makhluk-Nya  mereka. Sebelum lebih jauh membicarakan rezeki, kita coba pahami terlebih dahulu, apa hakekat rezeki?

Memaknai Rezeki

Dalam kamus bahasa Arab, Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi (wazan) fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).

Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).

Menurut Al ‘Izz ibn Abdis Salaam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].

Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang dapat dimanfaatkan. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan, ar-rizqu bisa dimaknai sebagai: bagian/porsi dari karunia Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.

Jaminan Rezeki Bagi Setiap Makhluk

Rezeki setiap manusia bahkan setiap makhluk sudah dijamin Allah Ta’ala

“Dan tidak ada satupun makhluk yang melata di muka bumi, melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya, dan Allah mengetahui tempat kediaman dan tempat kematiannya. Semuanya tercatat dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuzh).” (QS. Huud [11]: 6).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah Ta’aalaa mengabarkan bahwasanya Dia Yang menjamin rezeki seluruh makhluk, dari seluruh binatang melata di bumi, baik besar maupun kecil, yang ada di daratan maupun lautan.” (Tafsir Al Qur-an Al Azhiim, Ibnu Katsir).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy rahimahullah menuturkan, “Maksudnya adalah seluruh yang berjalan di muka bumi baik dari manusia atau hewan darat atau laut, Allah Ta’aalaa telah menjamin rezeki dan makanan mereka, semuanya ditanggung Allah.” (Taysiir Al Kariim Ar Rahmaan).

Dalam ayat yang lain, Allah menegaskan hal yang sama dengan firman-Nya:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (menyimpan) rezekinya sendiri.  Allah-lah yang menjamin rezeki hewan-hewan tersebut. Allah-lah yang menjamin rezeki kamu sekalian. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Terjemahan QS. Al Ankabut [29]: 60).

Rezeki dan Usaha

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta -barang atau jasa- sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Kenyataan yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan anggapan tersebut tidak benar. Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.

Sebaliknya, banyak rezeki datang kepada seseorang tanpa melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.

Semua ayat al-Quran menegaskan secara pasti bahwa rezeki semata ada di tangan Allah dan Allahlah yang memberi rezeki, seperti pada (QS. al-Baqarah [2]: 172, 212, 254; Aali Imran [3]: 27, 37; al-An’am [6]: 142; al-‘Ankabut [29]: 60; ar-Rum [30]: 40; dsb). Dia melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang sesuai dengan kehendakNya. (QS. ar-Ra’d [13]: 26; al-Isra’ [17]: 30; al-Qashshash [28]: 82; al-‘Ankabut [29]: 62; ar-Rum [30]: 37; Saba’ [34]: 36; az-Zumar [39]: 52; asy-Syura [42]: 12).

Dengan kehendak-Nya, Allah memberi rezeki kepada seseorang dari arah yang tidak disangka-sangka. Oleh karena itu, Allah Ta’aalaa berfirman (artinya): Mintalah rezeki itu di sisi Allah (QS. al-‘Ankabut [29]: 17). Jadi, rezeki semata di tangan Allah dan hanya Allahlah yang memberi rezeki. Ini adalah keyakinan yang perlu tertanam kuat dalam sanubari.

Sedangkan dari sisi amal, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan hamba-Nya untuk berusaha mencari rezeki. Namun, pada saat yang sama, ia harus paham bahwa usaha, itu bukan sebab bagi datangnya rezeki. Allah tidak menanyakan tentang datang dan tidaknya rezeki, tetapi Allah akan menanyakan usaha dan amal hamba untuk mencari rezeki. Itu sebabnya, Allah menjelaskan mana yang halal dan yang haram.

Rezeki setiap hamba telah dijamin oleh Allah. Allah pun telah menetapkan kadar dan takaran bagian atau porsi rezeki tiap hamba (Lihat QS. Hud [11]: 6)

Mari kita renungkan hikmah dari cicak…

Cicak hanya bisa menempel di dinding, namun selalu mendapatkan nyamuk atau serangga lain sebagai makanannya. Tugas cicak memang hanya berusaha sesuai kemampuan yang dimiliki. Karena soal rezeki, Allah lah yang memberi jaminan. Maka kewajiban cicak hanya diam-diam merayap. Tidak harus datang menerjang. Bukan juga harus mengejar dengan terbang.

Allah-lah yang mengatur dan mendatangkan rezeki itu. Jika dibanding usaha cicak yang diam-diam merayap, perjalanan nyamuk untuk mendatangi cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku. Jarak dan waktu memisahkan keduanya, dan Allah dekatkan sedekat-dekatnya. Bebas si nyamuk terbang ke mana jua, tapi Allah bimbing ia supaya menuju pada sang cicak yang melangkah. Nyamuk ditakdirkan menjadi rezeki bagi sesama makhlukNya.

“Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah lah rezekinya. Dia Maha Mengetahui di mana tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh yang nyata.” (Terjemahan QS. Huud [11]: 6)

Jika kita ingin berfikir lebih dalam lagi, kita akan mengetahui bahwa baik cicak maupun nyamuk memiliki mekanisme “self defence” berupa insting. Baik nyamuk maupun cicak ingin mempertahankan hidupnya. Nyamuk tidak mungkin menyerahkan diri kepada cicak untuk dimakan. Begitu juga cicak yang tidak mungkin membiarkan makanan lezat seperti nyamun untuk ditinggalkan begitu saja. Namun mengapa cicak selalu mendapatkan nyamuk sebagai mangsanya?

Dari contoh nyata tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita diciptakan di dunia ini pasti sudah terjamin rejekinya oleh Allah. Ada satu hal yang akan mebuat kita bisa menikmati rejeki Allah, berapapun besarnya. Cicak dapat bersabar menunggu nyamuk mendekat dan menangkapnya. Jika kita bisa mencontoh cicak yang senantiasa bersabar mencari rizki, Insya Allah kita akan dapat menikmati rizki pemberian Allah. Cicak bergerak lincah ketika mendapatkan peluang untuk menangkap nyamuk. Cicak bisa menunjukkan ketenangannya. tidak tergesa-gesa dalam mencari mangsa. Begitu juga selayaknya kita dalam mencari rizki. Jika kita dapat mencari rizki dengan tenang, kita dapat menikmati setiap rizki yang kita dapatkan.

Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud bahwa pada usia kandungan 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk menuliskan beberapa ketetapan atas janin itu, termasuk ketetapan rezeki dan ajalnya. Para ulama menjelaskan, yaitu ketetapan sedikit dan banyaknya rezeki. Sedikit dan banyaknya rezeki atau kaya dan miskinnya seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah karena itu semata adalah ketetapan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’la meluaskan dan menyempitkan rezeki seorang hamba sesuai kehendak-Nya. Itu adalah ujian bagi hamba (QS. al-Fajr [89]: 15-16). Kaya dan miskin tidak bersifat baik atau buruk dengan sendirinya; juga tidak menentukan mulia dan hinanya seseorang. Namun, kaya dan miskin itu menjadi baik atau buruk, memuliakan atau menghinakan, ditentukan oleh sikap.

Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan. Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai cara memperoleh dan membelanjakan harta tersebut.

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya:Umurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa dan tubuhnya digunakan untuk apa.” (HR at-Tirmidzi).

Seret atau tertundanya rezeki hendaknya tidak membuat seseorang tergesa-gesa lalu memintanya kepada Allah dan mencarinya dengan jalan yang haram. Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam berpesan:

“Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rezeki) dengan cara yang baik dan hendaklah tertundanya rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara maksiat kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” (HR Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan al-Bazar dari Ibnu Mas’ud).

Pemahaman yang benar tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya. Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain.Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. Karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku dalam kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”

Tulisan Ustadz Muhammad Ridwan Hamidi, Lc., M.P.I., M.A. (Wasekjen DPP Wahdah Islamiyah)

4 Balas ke “Mengais Rezeki Penuh Berkah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *