Oleh Muhammad Ayyub M., S.KM

Habbatussauda juga dikenal dengan sebutan jintan hitam. Tumbuhan yang memiliki nama ilmiah Nigella sativa ini telah dikemas sedemikian rupa menjadi 2 macam bentuk, yaitu minyak dan biji hitam atau black seed.

Sejak berabad-abad yang lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang khasiat habbatussauda. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sungguh dalam habbatus sauda itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian”.

Ilmuan Islam tempo dulu pun telah berkomentar tentang habbatussauda. Seperti Ibnu Sina, beliau mengatakan dalam bukunya yang berjudul Canon of Medicines bahwa habbatussauda merangsang tenaga dan membantu memulihkan kepenatan dan semangat. Ibnu Qayyim juga mengatakan dalam bukunya yang berjudul Medicine of the Prophet bahwa habbatussauda dapat membantu memulihkan penyakit seperti batuk, “bronchitis”, masalah perut, cacingan, masalah kulit seperti jerawat, sakit senggugut dan haid, menambah aliran air liur dan sebagainya.

Tidak hanya itu, penelitian ilmiah tentang khasiat habbatussauda dari berbagai universitas dan lembaga kedokteran maupun farmasi telah dilakukan sejak beratus tahun yang lalu.

Pada tahun 1986, Dr. Ahmad Al Qadhy dan rekan-rekannya melakukan penelitian di Amerika tentang pengaruh habatussauda terhadap sistem kekebalan tubuh manusia. Hasilnya, habatussauda menguatkan tugas-tugas imunitas dengan tambahan prosentase The Helper T-lymphocytes cell atas supressor cell ts. Jadi, sistem kerja habatatussauda dalam tubuh manusia adalah dengan memperbaiki, menjaga dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia terhadap berbagai penyakit.

Para ilmuan di Eropa juga telah menyatakan bahwa habbatussauda (the black seed) bekerja sebagai anti bakteri dan anti jamur. Para ilmuan imunobiologi dan kanker menemukan bahwa habbatussauda dapat merangsang sumsum tulang dan sel-sel kekebalan tubuh untuk meningkatkan produksi interferon serta melindungi sel-sel normal terhadap efek-efek virus yang merusak sel, juga menghancurkan sel-sel tumor.

Selain itu, sebuah penelitian besar juga mendukung pemakaian habbatussauda untuk penanganan rinitis alergi. Penyakit ini terjadi oleh karena peradangan pada hidung akibat reaksi alergi. Gejala penyakit ini mencakup hidung berair atau tersumbat, bersin-bersin, dan pembengkakan saluran di hidung. Gejala-gejala tersebut dapat dikurangi oleh habbatussauda, menurut sebuah penelitian lain.

Dalam kajian farmasi, kandungan aktif biji habbatussauda mengandung asam lemak yang setelah dikaji dapat berfungsi sebagai anti tumor melawan sel-sel Ehrlich ascities carcinoma (ECA), Dalton lymphomia ascities (DLA and Sarcoma 180 (5 180). Cytotoxicity 50% telah diteliti pada dosis pemakaian 1.5 mg, 3 mg and 1.5 mg, dengan hasil sedikit aktivitas melawan lymphocytes (Salomi et. al. 1992).

Nah, itulah khasiat habbatussauda yang telah terbukti secara ilahiah dan ilmiah. Namun, sebelum mengkomsumsinya, sebaiknya konsultasikan dulu kepada herbalis untuk menentukan dosis dan kesesuaian dengan kondisi fisik kita.

Semoga bermanfaat. []

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 45

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *