STIBA Makassar dulu
LAZISWahdah.com
– Oleh Kader Wahdah Islamiyah : Harman Tajang

Tahun 2000
Setelah saya menamatkan sekolah jenjang menengah atas (MAN 1 Bulukumba), sebagaimana yang lain saatnya merantau mencari jati diri, kuliah maksudnya.. Dan tentunya Makassar yang menjadi idaman, saya diantaranya, jurusan Aqidah Filsafat perbandingan agama yang menjadi incaran dan favorit dan Alhamdulillah, saya termasuk yang diterima tanpa tes pada jurusan tersebut di salah satu perguruan tinggi di Makassar, ditambah beasiswa karena prestasi di sekolah Alhamdulillah, ditambah pernah menjadi duta Sul-Sel dalam MTQ tingkat Nasional thn tsb.. Oh iya, sekedar info, ana besar di dunia MTQ sejak kelas 2 SD disegala bidang; hafalan, tilawah, kalighrafi, CCQ, dan karir yang sampai ke tingkat Nasional adalah cabang MSQ (Musabaqah Syarhil Qur’an) thn 2000 sebagai penceramahnya, pelatih ana Prof. DR. Rahim Yunus, MA hafidzahullah.. Dan karena itu, sepulang lomba ana laku laris.. Hehehe, diundang ceramah kemana-mana, Maulidan, Isra Mi’raj, Takziyah, Dll… Padahal masih SMA waktu itu lho.. Alhamdulillah, dan yang lebih disyukuri lagi akhirnya saya mulai mengenal sunnah…

Kembali ke Laptop…
Bersiaplah kami ke Makassar untuk menggapai cita setinggi langit, menjadi ahli Filsafat..
Namun, beberapa hari sebelumnya ada acara peresmian masjid di Kampung Ela-Ela namanya, di Kota Bulukumba, biasa… Ana dipanggil ngaji untuk pembukaannya, eh afwan, bukan peresmian tapi peletakan batu pertama, dihadiri bupati dan tokoh-tokoh yang lain, tapi bedanya rata-rata yang hadir banyak yang jenggotan… Hehehe, iseng tanya, orang bilang ; ini Masjidnya Wahdah (Masjid At-Tarbiyah sekarang),..
Setelah sambutan bupati, ada sambutan dari Wahdah, yang naik bicara seorang Ust berperawakan tinggi, putih, ganteng, serak-serak basah, bersemangat,.. Yaah, mirip2 saya, heheheh. Rambutnya maksud ana karena kebetulan rambut sebelah kiri ana sama modelnya rambut beliau, menghadap kedepan.. Hehehe

Yang membuat saya tersanjung, dalam sambutannya beliau sebut saya secara khusus, masih seger dalam ingatan beliau bilang gini : “tadi yang ngaji itu saya tersentuh dengan suaranya (cie…chie…), punya bakat dan potensi, kalau mau, saya akan beri beasiswa penuh kuliah di Makassar, di kampus kami yang bernama Stiba”.. (Hehehe, ternyata beliau belum tahu, saya calon mahasiswa Filsafat, sorry tadz ya…), tapi terus terang keramahan beliau membuat saya jatuh cinta, ramah dan mudah mencuri hati semua orang, termasuk saya, saat ngobrol kayaknya udah kenal sebelumnya padahal baru ketemu hari itu, masya Allah.. Beliau akrab dipanggil Ust. Zaitun, Bupati Bulukumba Drs. H. Patabai Pabokori kelihatan sangat menghormati beliau..

Setelah acara itu saya kembali fokus, tibalah waktunya ke Makassar, baru pertama kali, dilepas deraian air mata sang Ummi, saung diangkat, tekad dikokohkan demi, menjadi ahli Filsafat… Tiba di kampus, takjub dengan kemegahannya (sebenarnya semua membuat saya takjub, maklum orang udik ke Kota, hehehe), perkuliahan sudah dimulai, hm… Rasanya gimana yah? Bangga sih jadi mahasiswa, tapi kok hati ini belum puas dan kayaknya ada kebimbangan… Nggak tau sebabnya.

Beberapa hari setelahnya, pulang dulu ke kampung, ceritanya mau ambil perbekalan, setiba di Bulukumba Bapak rahimahullah bilang : “nak, ust. Herman pernah kesini, beliau harap kau masuk Stiba supaya bisa ke Medinah, kata beliau pesan dari ust. Zaitun bede’, ndak lama lagi ujian masuk, ikutmako”.

Mendengar Bapak bilang begitu, sebenarnya sedikitpun saya dak ada minat, apalagi kalo liat penampilan mereka (Wahdah) yang jenggotan dan celana cingkrang seperti ust. Herman, saya gak suka waktu itu…

Tapi demi bakti pada bapak, saya ikut tes Stiba, belum pernah liat kampusnya dan gak ada gambaran apa yang istimewa darinya, saya cuma termotivasi ‘bisa kuliah di Medinah’ (maklumlah, kuliah diluar kan keren). Singkat cerita saya ikut tes, ternyata tempatnya disebuah lorong yang kalo mobil berpapasang yang satu harus ngalah mundur kebelakang agar bisa lewat, atau merapat ke pagar dengN resiko mobil tergores, itulah Masjid Wihdatul Ummah (Wihdah Abdesir sekarang), terus terang pemirsa, keinginan saya jadi ahli Filsafat belum sirna, bahkan keinginan lanjut kuliah dikampus sebelumnya masih lebih besar, bayangkan… ! Sampai saya berdo’a waktu ikut tes StibA ‘semoga gak lulus’, (heheheh, aneh juga, biasanya org ujian untuk lulus, bahkan ada yang sampai nazar puasa atau sembelih sapi jika lulus).

Pengumuman keluar, nama ana ternyata ada nyangkut di urutan ’17’..
Bingung, hahahaha
Antara mengejar cita-cita dan bakti pada orang tua dengan sedikit keinginan keluar negeri..
Akhirnya saya putuskan, jalani dulu di Stiba, kalo gak cocok kan bisa balik lagi ke kampus yang pertama..

Tibalah saatnya ke kampus Stiba, karena waktu tes waktu itu bukan di Stiba langsung tapi di kantor Wahdah di Abdesir tadi..

Dengan bermodal alamat ditangan, saya berangkat sendiri, kampusnya di Kassi, Antang, bayangan saya kemegahan kampusnya mirip kampus yang pertama, setelah tiba di gerbang luar, ternyata harus jalan kaki sekitar 500 Meter, kampusnya dekat-sekat RPH (rumah pemotongan hewan) dan TPA (tempat pembuangan akhir sampah), saya berjumpa dengan ROSA (rombongan sapi) dan ROKER (rombongan kerbau), heheeh, firasat saya mulai menangkap sesuatu yang buruk, masak ada kampus megah di tempat seperti ini..

Saya hampir pulang, urungkan niat, tapi, liat dulu ah..
Dengan menenteng koper (sebenarnya punya roda tapi gak bisa diseret karena aspalnya penuh tinja ROSA dan ROKER) mentoklah saya di sebuah empang, dari kejauhan saya melihat sebuah mesjid dan bangunan sederhana, saya kira pos pengamanan, setelah nanya sama yang lewat, “Pak, mana kampus Stiba?,. “Itu sana pak, yang Masjid”, dunia teras gelap, langit seakan mau runtuh, betulkah ini kampus Stiba?!

Waktu itu saya baju kaos putih bertuliskan ‘MUSABAQAH TILAWATIL QUR’AN TINGKAT NASIONAL, PALU thn. 2000’, dibelakangnya tertulis ‘SUL-SEL’. Itu baju kebanggaan dan kehormatan, saya rasa gak pantas berada ditempat seperti ini.. Dari kejauhan kulihat teman satu kontingen saya dulu melambaikan tangan, saya mendekat, saya bilang : “tabe, mauma’ pulang, dak kusangkai Stiba seperti ini”. Temanku bilang : “tinggalmi dulu 3 hari ikut penataran (daurah istilah kerennya waktu itu), sudah itu baru pulangki sama-sama”. (Heheheheh).

Hari pertama kulalui dengan kegalauan, hati berkecamuk,…
Malamnya acara perkenalan para mahasiswa baru, tiba giliran saya, saya sebut semua prestasi, termasuk karir terakhir sebagai duta Sul-Sel..

Setelah acara ramah tamah, ketua senat datang minta ana kultum Subuh, dengan PeDe kusambuti tawarannya, akan kubuat mereka ‘terkeneng-keneng’ dengan pidato syarhilku tingkat nasional…
Tibalah waktu Subuh, lepas shalat tampillah ketua senat mempersilahkan : “ikhwah sekalian, Subuh ini kita akan mendengarkan kultum dari salah seorang mahasiswa baru, yang baru-baru ini mewakili Sul-Sel dalam MTQ tingkat Nasional cabang Syarhil Qur’an di Palu, kepadanya disilahkan”…
Saya tampil dengan langkah tegap, memakai jas kebesaran kontingen dengan Logo Sul-Sel, coklat muda kalo gak salah, semua ilmu tampil saya kerahkan yang merupakan hasil karantina sebulan diasrama haji Sudiang sebelum berangkat ke Palu, tarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan gugup, jangan liat mata audiens, lihat kepala mereka dan anggap saja semuanya semut, termasuk pesan penasehat spritual saya amalkan, diantaranya ; kalo mau tampil arahkan lidahmu ke bawah sambil membaca surah Al-Ikhlas, dan niatkan semua lawan-lawanmu di bawah, bayangkan huruf ‘Allah’ dan bayangkan kau duduk dalam huruh ‘ha’ (hehehehe, jangan diamalkan yah!), dengan berapi2, saya pidato dihadapan mereka para mahasiswa baru, belum ada yang saya kenal kecuali teman sekontingen saya, seorang ikhwah berjenggot tebal yang saya kira dosen yang dikemudiN hari ternyata sekelas saya mengangguk-angguk, saya semakin semangat.. Tujuh menit jatah kultum molor sampai 15 menit, selesai.

Semua puas, kagum, termasuk saya… Namun belum sampai saya kembali duduk, naiklah sesesorang yang ternyata dosen di stiba, sangat tenang, beliau menyambut semua mahasiswa, dan memuji ceramah saya, saya besar kepala, kesemsem senyam-senyum, namun ternyata, setelah kepala saya ‘dielus-elus’ saya ‘dibanting’, beliau mengurai hadits-hadits yang saya ceramahkan satu persatu yang ternyata semuanya lemah, bahkan ada yang palsu..

Saya malu luar biasa, gak nyangka sperti itu, padahal saya tinggalkan Bulukumba melihat diri saya sudah seperti ‘Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah’, apalagi ceramah yang saya banggakan sudah tampil diivent tingkat nasional, bukan hal yang gampang, namun ternyata diluluh lantahkan oleh ust tsb, yang dikemudian hari saya tahu bernama Ust. Muhammad Yusran Anshar…

Saya terhentak, tersadar, keangkuhanku runtuh, ternyata aku bukan apa2.. Akhirnya tekadku bulat, harus belajar lebih mendalam, kupustuskan di Stiba, semakin saya rasa kejahilan namun, alhamdulillah bersinergi dengan kehausan ilmu, sampai Allah memilihkan jalan ke Sudan, melanjutkan pendidikan di International University Of Africa, selepas itu Alhamdulillah kembali bergabung dengan barisan pejuang sunnah insya Allah diantas Manhaj yang shahih, Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para Salaf..

Syukran ya Allah atas hidayahMu
Terima Kasih guru-guru saya yang tercinta, dari kalianlah saya belajar ilmu, adab dan tujuan hidup yang sebenarnya..

Terkhusus buat kepada yang menjadi Sebab pertama kali kami melihat hidayah ; ust. Muhammad Zaitun Rasmin hafidzakalllah, apa yang saya pelajari dari kesabaran, kesantunan dan keramahan ust lebih banyak dari ilmu ust..
Semoga Allah menjaga ust dan Wahdah Islamiyah, di Wahdalah saya belajar dakwah bil hikmah tanpa ta’asshub dan arogan…
Juga buat Murabby pertama saya : ust. Herman Hasyim -hafidzahullah-

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad.

‪#‎WahdahBukanTeroris‬

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *