Oleh Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I
LAZISWahdah.com – Berkata Ubadah bin Shomit -radhiallahu ‘anhu- : “Engkau tidak akan pernah merasakan lezatnya Iman sampai engkau yakin bahwa apa yang ditakdirkan untukmu, tidak ada yang mampu menghalanginya dan apa yang bukan untukmu, tidak ada yang mampu memberikannya”.
Itulah salah satu buah dari keimanan pada takdir Allah, senantiasa menghadirkan kelapangan dalam jiwa, menghadirkan bahagia dalam musibah, senyuman dalam tangisan serta syukur dalam kegetiran, apatah lagi jika mengingat pujian Allah untuknya dihadapan para Malaikat dan bergugurnya dosa-dosa ketika ia bersabar dan berbaik sangka pada Tuhannya, Baginda Nabi mengabarkan bahwa Allah senantiasa menguji hamba-Nya sampai ia kembali kepadaNya tanpa ia memikul dosa sedikitpun,

Kawan, jika prinsip itu telah tertanam dan terpatri dalam jiwamu maka bersiaplah menyambut ‘kebahagiaan’ walau mungkin engkau tersisih disudut lorong kehidupan, karena sesungguhnya Syurga itu ada dalam jiwa, tak peduli di ruang mana pun anda berada, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- pernah berkata : “andai para kaisar, pangeran dan raja-raja tahu kebahagian yang ada dalam hati kita niscaya mereka akan datang dengan pedang-pedang mereka dan memenggal leher-leher kita karena kecemburuan mereka”. Padahal jika kita melihat kehidupan beliau penuh dengan ujian, bahkan beliau meninggal di dalam penjara, beliau juga pernah berkata : “apakah yang diinginkan musih-musuhku !?, jika mereka memenjarakanku maka, penjara merupakan ‘khalwat’ bagiku, jika mereka mengasingkanku maka, itu tamasya bagiku dan jika mereka membunuhku maka, kematian adalah syahid bagiku”,…

Namun saudaraku, ketahuilah bahwa pasrahnya kita terhadap takdir bukan berarti duduk berpangku tangan, bermalas-malasan seakan menunggu hujan emas dari langit, ‘ikatlah untamu kemudian tawakkal’ adalah sebuah kaidah penting dalam kehidupan, jika usaha, tawakkal dan do’a sudah berpadu maka, selebihnya biarlah Allah yang Maha bijaksana yang memutuskannya, dia lebih tahu apa yang pantas buat hambaNya, boleh jadi ada yang kita cita-citakan ternyata Allah lebih tahu bahwa ia buruk bagi kita, Allah tidak beri bukan berarti tidak sayang, justru sebaliknya disitulah letak kasih sayang Allah. Jika ada seorang anak seusia SD minta dibelikan motor Ninja misalnya dan sang bapak tidak mengabulkan, padahal jangankan motor ninja, mobil ninja pun mungkin bisa dibelikannya, apakah hal itu menunjukkan sang bapak benci pada anaknya?, sama sekali tidak !, justru jika ia membelikannya maka, ia telah merusaknya, mungkin sang anak akan merengek, menangis atau ngambek bahkan jengkel pada bapaknya namun, biasanya ia baru menyadari ‘hikmah’ sang bapak gak ngasih beberapa waktu kemudian. Jadi, hendaknya seorang hamba senantiasa berbaik sangka pada Tuhannya, Maksimalkan Usaha, adapun selebihnya serahkanlah padaNya..

Setelah proses pengiriman berkas seadanya ke Depag Jakarta via fax, kami kembali larut dalam suasana perkuliahan di kampus dan kegiatan ekstrakulikuler pengabdian masyarakat diluar, semester dua suda mulai setelah ujian semester pertama rampung, hasil ujian saya terkesan seadanya karena konsentrasi muraja’ah terbagi demi menyiapkan berkas-berkas pendaftaran ulang pasca kabar kelulusan tak terduka dari Depag, walau demikian Alhamdulillah, nama saya masih bertengger di posisi lima besar. Lupa saya sampaikan sebelumnya bahwa diawal kami di Stiba terdapat tiga program perkuliahan yang harus dilalui; yang pertama ‘i’dadul Lughawy’/persiapan bahasa, selama dua tahun (disinilah kami dibekali dasar-dasar bahasa. Arab, dilatih bercakap, membaca dan memahami, yang dikenal dengan istilah ‘fahmul masmuu’ dan fahmul maqruu’, kami juga dilatih merangkai kata yang disebut ‘ta’bir’, dan dibekali kaidah-kaidah ‘Nahwu’ dan ‘Sharaf’,) di area kampus kami diwajibkan berbahasa Arab, jika melanggar bersiaplah menanggung malu, namamu akan diumumkan dihadapan seluruh dosen dan mahasiswa lepas shalat Dzuhur, anda gak bisa mengelak karena jenis pelanggaran, kata-kata (non Arab) yang diucapkan, waktu dan tempat lengkap dibacakan, saya terkadang heran darimana hal itu ketahuan?, ternyata di asrama telah tersebar ‘jasuus’ atau mata-mata, kalo ‘Jas-Jus’ segar bisa diminum, tapi jasuus mempermalukan, jasusnya tidak ketahuan (yah, namanya mata-mata masa’ ketahuan), terkadang kita ketangkap basah di dapur, wc, lapangan bahkan sampai dibalik tirai diatas ranjang, mungkin kalo ngigau selain bahasa Arab juga dilaporkan, tapi semua itu tujuannya baik kawan, demi kau juga, jika ada yang masuk Syurga dengan rantai sebagaimana kabar baginda Nabi mungkin anda baru bisa berbahasa Arab dengan cambukan. Hukuman pelanggaran sangat bervariasi, ada yang berupa hukuman fisik seperti membersihkan ‘WC’ atau mencabuti rumput di lapangan, ada juga non fisik seperti diberi tugas menghafal, saya sendiri bisa hafal Hadits-hadits Arba’in Nawawiyah karena hukuman kawan, dari Ust. Yusran, tapi buka pelanggaran bahasa, sebabnya karena telat pulang setelah liburan, kebetulan bukan lagi Ust. Hamdan yang jadi Musyrif ‘sakan’/asrama waktu itu, jadi gak bisa lagi ‘kongkalikong’.

Kembali ke Program kuliah. Yang kedua; disebut ‘Takmili’/penyempurnaan, program ini ditempuh selama satu tahun sebagai program pemantapan bahasa sebelum masuk ke jenjang berikutnya. Perlu pemirsa ketahui bahwa bahasa pengantar perkuliahan pada semua jenjang di Stiba adalah Bahasa Arab, jadi mau tidak mau para mahasiswa dikondisikan untuk cepat bisa dan faham bahasa Arab.

Adapun Program perkuliahan yang ketiga adalah; S1 Syari’ah, disinilah para mahasiswa lebih fokus dalam mengkaji ilmu Syar’i, berkutat dengan literatur-literatur asli peninggalan para ulama, menyelami samudera Ilmu yang diwariskan para pendahulu. Di waktu saya berada di semester satu Syari’ah inilah Stiba ‘tiba-tiba’ bayar, yang sebelumnya gratis, pas naik semester dua disitulah saya mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke negeri 2 Nil, Khartoum Sudan walau prosesnya penuh perjuangan, pengorbanan, tetesan keringat, air mata bahkan darah (kok bisa ‘darah’?, nanti saya jelaskan).

Baik, kita kembali…
Berkas telah terkirim, Depag suruh nunggu sampai ada panggilan, kabar sudah tersebar bahwa saya dapat beasiswa ke Sudan, ucapan selamat di inbox siemens C 55 terus berdatangan (oh iya, M 35 diganti C35 sepulang ‘tarabbush’/sejenis KKN di Soroako, kedua hp itupun penuh kenangan, M 35 karena hp pertama, sangat kusayang, waktu saya jual ada kesedihan yang mendalam, adapun C 55 keren dengan polyponichnya, apalagi bisa jalan sendiri ketika ditegakkan karena getarannya saat menerima panggilan masuk, sahabat saya Adnan juga punya merek hp yang sama sehingga biasa hp-hp kami kami adu lari, nada dering C 55 saya juga keren, rekaman tangisan ponaan waktu itu, namanya Ahmad Zaky, sekarang dia sudah kelas 2 SMP, kalo suara tangisannya direkam sekarang mungkin hpNya langsung hank), syukuran kecil-kecilan juga sudah dilakukan, walau hanya mengundang para ikhwah/teman-teman makan pisang goreng di rumah, buku-buku dan baju di asrama hampir semua sudah dibagikan (itu tradisi kami dulu di Stiba, ketika ada yang lulus maka, buku-buku dan baju-bajunya dianggap ghanimah/rampasan perang yang dibagi-bagikan pada teman sekamar), pamitan di Masjid tempat ngajar juga sudah, pake acara seremonial pelepasan, ucapan terima kasih dari ketua pengurus masjid atas pengabdian saya ikut membebaskan anak-anak kecil dan remaja dari buta aksara Al-Qur’an, sesi photo bersama pake kamera roll, setelah itu ditutup dengan acara makan bersama dengan menu ‘Sop Ubi’, itu di Masjid Jami’ JL. Tamangapa.

Sebulan, dua bulan berlalu belum ada panggilan dari pihak Depag, mulai ada kekhawatiran (sebenarnya sampai saat itu saya juga belum mantap mau berangkat ke Sudan, masih banyak yang mengganjal dihati, terutama tidak adanya gambaran keadaan disana, andai lulus Medinah tentu keraguan itu tidaklah beralasan, namun apa boleh buat, saya harus berangkat!, malu kalo gak jadi, sudah sesumbar, pembagian ghanimah, syukuran, pamitan, pelepasan,..),

Akhirnya saya berinisiatif nelpon ke Jakarta menanyakan kepastian kapan berangkatnya, ternyata jawabannya mengejutkan sekaligus menakutkan, katanya bahwa pengumuman yang lalu belum final, itu baru pengumuman layak lulus, adapun pengumuman finalnya setelah seleksi berkas yang telah masuk., saya sempat komplaing ; kok gak bilang dari dulu !!!?. La hawla wa laa Quwwata illa billaaah, tentu anda tahu alasan kekhawatiran saya kawan, karena berkas saya ‘apa adanya’, yaah, saya pasrah, mau diapa lagi, kalo memang gak jadi lulus apa boleh buat, bersiaplah menanggung malu, dan Stiba lebih baik bagimu insya Allah, boleh jadi apa yang kau Inginkan Adalah buruk bagi Allah dan Ia lebih Tahu mana yang terbaik untukmu, begitulah bisikan hati saya menghibur diri.
Tiga bulan berlalu, belum ada kepastian, saya sudah anggap gak jadi berangkat alias tidak lulus (dan ini pelajaran kawan, jika ada sebuah urusan yang gak pasti, persiapkan diri anda dengan hasil yang terburuk, jika memang buruk maka anda sudah bersiap sebelumnya hingga nggak stress, dan jika berhasil maka itu menjadi suprise dengan bahagia yang berlipat ganda, contoh; jika anda berniat melamar seorang akhwat maka, persiapkan diri nggak diterima, jadi ketika nanti ditolak sudah ada persiapan sebelumnya sehingga gak perlu ‘racun’ dianggap madu, apalagi sampai dukun bertindak, dan jika diterima tentu kebahagiaannya berlipat-lipat, ini sekedar pengalaman kawan, bisa diterima bisa juga tidak), setiap kali ada yang tanya, saya cuma jawab singkat ‘tolong do’akan yang terbaik’ titik.

Tiga bulan berlalu, tidak ada lagi yang nanya-nanya, kondisi kembali normal, Alhamdulillah…
Semangat belajar kembali berkobar-kobar, persaingan di kelas semakin ketat, jumlah di kelas kami bertambah, sebelumnya saya sampaikan bahwa seangkatan saya kena ‘tarabbush’/masa penantian, karena kami lepas tingkat ‘takmili’ pas akhir semester ganjil sehingga harus menunggu satu semester untuk masuk pada program kuliah S1, dan kami disatukan dengan kelas yang datang setelah kami, sehingga kelas makin ramai, bintang semakin banyak, bergabunglah Sofyan Nur, Furqan Haq, Abdurrahman Ever, dan banyak lagi,..

Sampai disuatu hari, ketika kami sibuk kuliah di kelas, tiba-tiba hp yang ada di saku saya bergetar panjang tanda ada panggilan masuk, sebagai bentuk adab tentu suaranya disilentkan, saya keluarkan dikit agar gak terlihat dosen dan saya lihat dilayar dari nomer tak dikenal dan diawali kode daerah -021-, jantung saya berdegup kencang, bukankah kode 021 adalah area Jakarta? Saya tidak punya kenalan di Jakarta, kalaupun ada nggak ada yang tahu nomer hp saya, Jangan-jangan…. !!?, saya angkat tangan izin keluar, setiba di luar kelas tuts OK saya tekan, dan ternyata yang ada di ujung telpon adalah suara seorang lelaki yang mengaku dari kantor Depag Jakarta, katanya : “betul ini dengan Harman Tajang?, saya jawab : “iya benar, saya sendiri”,. Penelpon : “anda dinyatakan lulus mendapatkan beasiswa pendidikan ke Sudan, paling lambat tiga hari kedepan anda sudah harus berada di Jakarta untuk persiapan keberangkatan”, saya cuma jawab : “iya pak, saya usahakan” (saya jawab seadanya, kaget dan bingung..), penelpon : “apakah anda mengenal saudara Mukran?”, Saya : “iya pak, teman saya”, Penelpon : “tolong sampaikan, beliau juga lulus dan harus segera ke Jakarta bersama anda, harap siapkan uang tunai 7.500.000 untuk pembelian tiket pesawat dan pihak Universitas akan mengganti ketika anda tiba di Sudan”, Saya : “baik pak, maaf pak, selain saya dan Mukran siapa lagi yang lulus dari Makassar?”, penelpon : “dari Makassar ada tiga orang, Anda, Mukran Usman dan Sobri”, Saya : “apakah ada nama Sofyan Nur dan Zulfiadi?, Penelpon : “gak ada, cuma tiga dari Makassar”, Saya : “makasih Pak”. Penelpon : “sama-sama”.

Kawan, perasaan saya serasa gado-gado, antara gembira, sedih, khawatir, ragu (silahkan bayangkan rasanya), gembira karena saya dinyatakan lulus, ada kebanggaan tersendiri disebut penerima beasiswa (semoga niat senantiasa terjaga) dan juga rasa malu akan terbayarkan. sedih, karena saudara seperjuangan saya dalam pengurusan berkas sampai menggigil karena hujan lebat Sofyan Nur dinyatakan gak lulus, saya tidak tahu persis apa penyebabnya padahal, berkas beliau lebih lengkap dan telah diterjemah oleh penerjemah resmi di Jakarta, dan yang lebih menyedihkan lagi, bekal beliau telah siap, uang pembeli tiket ke Jakarta sudah standby, ‘ghanimah’ (buku-buku dan baju-baju) sudah dibagikan, ucapan selamat tinggal telah terlafadzkan, sejuta mimpi telah dirangkai dan ternyata, gak jadi berangkat. Berita itu belum ada yang tahu karena baru saya yang dihubungi sebab nomer hp tertulis di berkas untuk konfirmasi kelulusan, bingung juga cara menyampaikan berita duka itu pada beliau. Adapun perasaan khawatir saya karena terus terang kawan, saya tak punya uang waktu itu, jangankan dana tiket yang konon akan diganti, untuk tiket ke Jakarta saja saya nggak punya, dan tentu di jakarta juga gak langsung berangkat, biaya-biaya pengurusan adminitrasi termasuk cek kesehatan tidaklah gratis, dari kenyataan pahit itulah muncul perasaan ‘campuran gado-gado’ yang lain tadi, yaitu; keraguan, apakah saya memang bisa berangkat?!.

Selepas kuliah hari itu berita dari Depag Jakarta saya sampaikan ke Mukran, beliau sangat bahagia, persiapan beliau juga sudah matang, termasuk uang 7.500.000 pembeli tiket ke Sudan sudah ada yang sejak awal memang sudah dipersiapkan sebagai bekal, kabar burungnya tanah di kampung halaman melayang dijual, tapi masih ada yang tersisa (Untung kau lulus kawan..!), Sofyan juga sudah tahu kabarnya namun saya tidak bisa lagi fokus waktu itu, gak tahu gimana reaksinya.

Yang jadi beban pemikiran saya adalah, biaya-biaya keberangkatan… Gak mungkin saya minta ke orang tua karena saya tahu kondisi keuangan waktu itu lagi pas-pasan walaupun andai saya sampaikan pada bapak -rahimahullah- pastilah beliau akan berusaha sekuat tenaga, dan sudah terbukti beberapa kali, di keluarga kami beliau adalah pahlawan, apatah lagi jika untuk alasan pendidikan, beliau pantang menyerah (mengenai beliau akan saya khususkan satu cerita dalam silsilah ini dengan judul ‘belikan aku sebuah teropong’, sabar yaah).

Sebenarnya, kembali yang jadi masalah adalah waktu yang kepepet, tiga hari batas waktu diberi dan harus segera ke Jakarta sulit bagi saya, solusinya sebetulnya ringan, cuma cari pinjaman senilai tiket, kan nanti ketika sampai akan diganti pihak Universitas (sebagaimana penjelasan dari Depag via telpon), namun itupun ternyata sulit kawan, kalo dihitung-hitung minimal saya harus punya persiapan 10juta rupiah, untuk tiket Ke Jakarta dan Sudan, tes kesehatan dan akomodasi selama di selama menunggu pemberangkatan, itupun 10juta masih mengkhawatirkan, tapi minimal yang pokok telah terbayarkan. Masalahnya siapa dan kemana saya harus ngutang? Uang segitu di tahun 2004 terhitung besar, bisa dipakai sebagai mahar dan biaya resepsi walimah.

Akhirnya, kembali saya mengambil keputusan, harus diusahakan dulu, agar nanti tidak ada penyesalan, masih ada waktu 2 hari, sebenarnya sih tinggal sehari karena lusanya setelah telpon dari Depag harus segera ke Jakarta. Mulailah saya bergerilya, dan dalam hal ini, ucapan terima kasih tak terhingga pada saudaraku yang statusnya yunior saya di Stiba waktu itu yang bernama ; Mudatsir dari Bantaeng, yang dalam akun fbnya tertulis ‘Mudatsir Obenk’ (gak tahu kenapa dia menambah kata obenk, mungkin dia punya kenangan manis dengan salah satu alat mekanik yang bernama ‘obeng’ karena profesi beliau selain da’i sekarang adalah pengusaha rental mobil yang tentu akrab dengan benda tersebut, terutama untuk ganti ban jika meletus), Mudatsir yang murah senyum, eh.. Afwan, salah, yang murah tawa menawarkan bantuan pada saya untuk bergerilya cari ‘pinjaman’, karena kebetulan beliau sudah punya motor gede ‘tiger’ waktu itu walau dikemudian hari baru saya tahu ternyata statusnya juga milik Omnya, seorang pengusaha kayu yang sukses.

Bismillah, dengan bermodal tekad dan nekat saya dibonceng Mudatsir mulai berjalan di permukaan bumi, memaksimalkn usaha, adapun selebihnya saya pasrah, biarlah di langit yang memutuskannya.

Ijtihad pertama yang kami lakukan adalah mendatangi beberapa tokoh dan lembaga yang kami prediksi bisa memberi bantuan, dari pintu ke pintu kami bertamu, mengetuk pintu hati para hamba-hamba Allah yang kami anggap diberi kelebihan harta, lembaga-lembaga sosial juga saya datangi namun, hasilnya nihil, semua mohon maaf gak bisa bantu walaupun jazahumullahu khairan rata-rata mereka berkata waktu kami pamit ‘hanya do’a yang bis kami berikan dan semoga urusan antum dimudahkan’.
Ijtihad berikutnya setelah usaha yang pertama gagal adalah, mendatangi masjid-masjid besar di Makassar, (mungkin ada pemirsa yang mengira untuk berdo’a? Hehehe, bukan kawan walau itupun terus saya lakukan, berusaha dan berdo’a), tujuan utama mendatangi mesjid-mesjid itu adalah untuk mencari dan melihat papan pengumuman yang biasanya tertulis info-info Masjid, mulai waktu Sholat, info Jum’at dan yang paling menjadi fokus kami adalah ‘jumlah Saldo Masjid tersebut’, pasti anda sudah faham, saya berniat pinjam dari pengurus masjid dengan janji mengembalikan setelah tiba di Sudan. Namun ternyata ijtihad kedua ini juga gagal, bervariasi jawaban pengurus masjid, ada yang bilang ‘saya tidak berkewenangan memberi pinjaman karena ini dana ummat’, ada juga yang bilang ‘dana ini untuk pembangunan masjid dan tidak ada alokasi dana untuk bantuan orang perorang’, ada juga yang setelah kami lihat papan pengumumannya kami langsung tinggalkan mesjidnya karena ternyata saldo akhir : Minus sekian juta, Masjid ngutang di toko bangunan demi renovasi. Intinya, ijtihad dan usaha yang kedua gagal (terima kasih kepada para pengurus masjid yang amanah mengelola keuangan masjid, dan apa yang saya lakukan dulu hanya karena darurat pak, hasil ijtihad, kalo dinggap salah semoga diamaafkan dan diampunkan Allah atau dapat satu pahala).

Kami pulang ke Ma’had karena usaha yang saya lakukan buntu, dan waktu semakin mepet, kembali terselip perasaan putus asa dan juga mulai menghibur diri mempersiapkn kemungkinan terburuk sebagaimana jurus itu yang telah saya paparkan sebelumnya (siapkan mental menghadapi kemungkinan terburuk).

Dalam kondisi setengah pasrah Mudatsir menawarkan pada saya untuk mendatangi Paman beliau, seorang pengusaha kayu yang sukses dan banyak membantu orang, saya setuju, cuma infonya beliau lagi ke kampungnya ‘Bantaeng’, ziarah keluarga dan ada keperluan yang lain. Mudatsir kembali tawarkan antar saya pake motornya ke Bantaeng, kurang lebih 120 KM. Kami langsung berangkat hari itu, setiba di Bantaeng rumah orang tua beliau yang kami tuju namun sayang, beliau lagi keluar untuk urusan penting, Mudatsir tanya urusan apa?, dijawab; “Aji mau belli kebun”. Firasat saya berkata buruk, ada alasan gak dapat bantuan nantinya dan saya sudah bayangkan jawabannya “mohon maaf de, saya ingin sekali membantu tapi barusan tadi siang saya beli tanah dan dananya habis disana, insya Allah lain kali yah”. Saya usul ke Mudatsir mending balik saja ke Makassar tapi beliau ngotot harus ketemu langsung dengan beliau, saya terima. Kami ke Bulukumba dulu karena sudah dekat dan memperkirakan ketika beliau balik ke rumah orang tuanya baru kami temui lagi, namun benar-benar nasib, ketika kami kembali dari Bulukumba tuk jumpai beliau, orang di rumahnya bilang ‘Aji sudah balik ke Makassar’. Mudatsir tancap gas ke Makassar, mengejar beliau, kami tiba di Makassar Maghrib, selepas Shalat kami langsung ke rumahnya di Dg. Tata Raya dan Alhamdulillah beliau ada. Itu pertama kali saya jumpa beliau walau namanya sudah sering saya dengar, sangat ramah, nampak kewibawaan di wajahnya, ganteng lagi, gak kaya’ ponaannya Mudatsir.

Setelah sedikit basa-basi dan menyampaikan perjalanan kami hari itu untuk jumpa beliau, saya mengutarakan maksud kedatangan ke rumah beliau : “Aji, Alhamdulillah saya lulus ke Sudan tapi, uang tiket ditanggung dulu sendiri-sendiri, nanti di Sudan baru diganti, jadi kalau ada kelapangan saya mau pinjam danata’ sekitar 5juta dan nanti di Sudan saya kirim gantinya”.
Beliau terdiam sejenak, setelah itu beliau mulai bicara dan ternyata firasat saya benar, beliau bilang : “mohon maaf de, saya ingin sekali membantu namun qadarullah, baru tadi siang saya beli kebun di Bantaeng dan banyak dana yang saya keluarkan, saya cuma bisa bantu dengan do’a semoga dimudahkan insya Allah”. Blesss !, hati saya terasa kosong, la hawla wala quwwata illa billah, saya merasa usaha sudah maksimal, ditambah waktu yang sudah sangat mepet dan keletihan yang sampai pada puncaknya dan juga lapar yang melilit, akhirnya dalam hati saya sudah putuskan dengan terpaksa bahwa ‘keberangkatan ke Sudan tinggallah angan-angan’.

Dengan muka lesu saya pamit minta diri namun, sebelum saya berdiri beliau tanya : “siapa namata?”, saya jawab : “Harman Tajang Aji, mahasiswa Stiba, satu kampus dengan Mudatsir”, beliau tanya lagi : “oooh, yang ada kaset rukyahnya? Yang biasa isi program Damai baru di Telstar?”, saya jawab : “iye Aji, saya orangnya”, beliau bilang : “mari kita ke Mesjid Shalat Isya dulu”, kebetulan memang adzan Isya telah berkumandang. Selepas Isya kami diajak kembali ke rumahnya dan ternyata dipanggil makan, setelah makan beliau masuk kamar, kami menunggu di ruang tamu dan kembali siap berpamitan, kalo gak dapat duit minimal sudah diajak makan, Alhamdulillah. Beliau keluar dan diluar dugaan, beliau bawa amplop berwarna coklat dan ternyata isinya duit, beliau letakkan di meja seraya berkata : “Alhamdulillah, ini masih ada sisa dana sedikit, 5juta, silahkan dimanfaatkan”. Allahu Akbar ! Tak terasa saya menangis kawan, perjuangan berbuah manis. Dengan sedikit gugup saya menerima uang tersebut seraya berkata : “Makasih baaanyak Aji, semoga Allah memberi keberkahan dan Insya Allah setiba di Sudan saya akan kirim gantinya”. Diluar dugaan lagi beliau jawab : “Oh tidak de’, ini bukan pinjaman, cuma-cuma insya Allah, gak usah dikembalikan”. Allaaaahu Akbar ! Saya peluk beliau, kembali mengucap beribu-ribu terima kasih setelah bersyukur pada Allah. Kami meninggalkan rumah beliau dengan penuh bahagia, selaksa do’a terucap. di jalan Mudatsir cerita bahwa beliau termasuk penggemar acara telstar (program ‘Damai Baru’ yang diasuh Kak Syam -rahimahullah-, dialog sepeutar agama via telpon setiap selesai Shalat Subuh oleh para narasumber dari ust-ust di Wahdah Islamiyah, saya biasa gantikan ust yang berhalangan terutama program rukyah yang diasuh oleh Ust. Qosim Saguni), Mudatsir juga bilang bahwa ‘Aji’ sering setel kaset rukyah saya (edisi jadul) di mobil dan rumah beliau. Alhamdulillah alladzy bini’matihi tatimmu as-shaalihaat. Sampai sekarang saya menganggap beliau seperti orang tua sendiri, sangat berjasa dalam perjalanan hidup saya, hanya do’a yang bisa saya berikan, mungkin bagi sebagian orang 5juta adalah jumlah yang sedikit, tapi bagi saya dalam kondisi terjepit dan ada yang membantu maka, ia adalah pahlawan bagi saya, beliau bernama H. Sahabuddin -hafidzahullah-, sekarang beliau menjabat sebagai ketua DPRD Bantaeng.

Alhamdulillah 5juta sudah ditangan, tersisa 5juta lagi untuk tambahan biaya tiket ke Sudan dan tiket pesawat Makassar-Jakarta (sempat juga nyesal di jalan, kenapa gak sekalian minta 10juta tadi, hahahaha). Kami tiba di Asrama Stiba larut malam, Mukran sepanjang hari nelpon terus, soalnya dia mau boking tiket ke Jakarta untuk besoknya dan uangnya belum saya kasi, masih kurang saya bilang, sabaar. Saya ke kamar Sofyan di lantai satu, rencana baru mau menghiburnya karena gak jadi berangkat, kesedihan beliau lebih besar dari Zulfiadi, kalo Zulfiadi memang sejak awal sudah ragu karena di pengumuman awal yang tertulis ‘Zulfiah’, jadi ngurusnya gak seserius Sofyan yang memang namanya jelas tertulis ‘Sofyan Nur’, saya singkap tirai ranjangnya, beliau sudah siap tidur, saya minta maaf mengganggunya, saya berusaha menghibur sebisa mungkin, mata beliau sembab, sedih melihatnya, beliau menangis, saya ikut terharu, kupeluk saudaraku itu, kutepuk punggungnya seraya berbisik : “akhi, Allah merencanakan untuk antum yang lebih baik insya Allah”. Beliau jawab : “Amin”, setelah saya menghibur Sofyan dan bicara agak lama, tanpa saya duga beliau mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang 2juta yang sudah beliau persiapkan jauh hari buat beli tiket ke Jakarta, beliau kasi saya dan berkata : “ambil ini beli tiket, do’akan saya”, saya bertanya : “utang?”, beliau jawab : “hadiah”.. (Allahu Akbar, sekali lagi saya peluk beliau, sungguh mulia engkau wahai kawan, dan sedikit dalam hati saya bergumam : untung kamu tidak lulus akhi. Hehehee)

Dan ternyata memang Allah punya rencana lain untuk beliau, tiga bulan setelah saya tiba di Sudan nama beliau termasuk dalam daftar mahasiswa penerima beasiswa ke Medinah, beliau lulus bersamaan dengan Akrama. Subhanallah…. Yang menjadikan hambaNya tertawa dan menangis, Alhamdulillah… yang meninggikan dan merendahkan, Allahu Akbar…. yang Maha berkuasa diatas segalanya).

Keesokan harinya berangkatlah saya bersama Mukran ke Jakarta, setiba di Jakarta, kami dijemput Rustam tinggi dari Sinjai yang kuliah di LIPIA waktu itu…

Bagaimana saya bisa menutupi kekurangan biaya tiket 2,5 juta….??

Apa yang terjadi dengan Mukran yang ternyata tidak lulus dalam chek up kesehatan…??
Lalu bagaimanakah insiden yang terjadi dengan petugas kemanan bandara Soetta?
Nantikan jawabannya pada episode berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *