Sifat Itsar
LAZISWahdah.com 
– Itsar secara bahasa bermakna mendahulukan atau mengkhususkan. Secara istilah, mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri pada sesuatu yang bermanfaat baginya dan memberikannya pada orang lain. Ini termasuk puncak persaudaraan. (at-Ta’rifat al-Jurjani 1/59, Mu’jam Lughati al-Fuqaha’ 1/116). Berkata Ibnu Miskawaih, “Itsar adalah keutamaan jiwa yang dengannya ia menahan diri dari sebagian hajatnya sampai ia memberikan kepada orang yang berhak menerima.” (Tahdzibul Akhlaq hal.19)

Mendidik dan melatih jiwa agar memiliki sifat dermawan adalah upaya yang seharusnya dilakukan setiap muslim. Setiap bentuk muamalahnya dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengharapkan pahala serta keridhaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“…yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Akan tetapi, (dia memberikan itu semata-mata) karena mengharap Wajah Rabbnya yang Mahatinggi. Kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Terjemahan QS. al-Lail: 18-21)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka mengatakan) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula (ucapan) terima kasih’.” (Terjemahan QS. al-Insan: 8-9)

Kedermawanan tidak terbatas pada mendermakan sejumlah harta kepada orang yang berhak, tetapi juga mencakup hal-hal yang terkait dengan kemaslahatan duniawi. Misalnya, mendahulukan saudaranya untuk memperoleh pelayanan dalam suatu urusan duniawi, membantu sesama, dan sebagainya. Kedermawanan dengan derajat tertinggi adalah al-itsar, yaitu mengutamakan pemberian -berupa harta atau kebaikan yang bersifat duniawi- kepada orang lain, padahal si pemberi sendiri membutuhkannya. Tidak ada kedermawanan dengan derajat yang lebih tinggi daripada al-itsar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam karena al-itsar yang mereka miliki. Allah berfirman (yang artinya),

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yakni kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin), dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) di atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan. Barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Terjemahan QS. al-Hasyr: 9)

Potret Itsar Salaf as-Shaleh

Dalam hadits riwayat muslim dari Abu Hurairah, sepasang suami istri yang memenuhi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberi makan musafir,  adalah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim (Rumaisha binti Milhan). Demi menjamu tamu, malam itu mereka segera menidurkan anak-anak mereka yang lapar. Mereka kemudian meredupkan lampu dan berpura-pura makan agar tamu mereka makan dengan tenang.

Padahal yang sedang disantap oleh tamu mereka itu adalah satu porsi terakhir yang mereka miliki hari itu.

Ketika keesokan hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Abu Thalhah, beliau bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira (tersenyum) menyaksikan perbuatan Anda berdua”.

Hampir kesemua istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan sifat pemurah dan itsarnya. Istri pertama yang paling dicintainya, dan tak pernah dapat dilupakannya: Khadijah menunjukkan itsar saat Rasulullah meminta pembantu Khadijah: Zaid bin Haritsah untuk menjadi pembantunya. Beliau juga menginfaqkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan fisabilillah menyebarkan agama Islam.

Istri Rasulullah seperti Zainab binti Jahsy yang pandai berwiraniaga juga terkenal dermawan dan suka membantu orang lain. Saudah bunti Zum’ah istri Rasulullah yang walaupun hanya berjualan roti kuah ala Thaif pun ikut berinfaq dengan hasil dagangannya.

Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha yang terkenal kepandaiannya sekaligus juga kedermawanannya pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal. Oleh Aisyah harta itu segera di bagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit saja untuk dirinya. Sampai ditegur Ummu Burdah yang membantunya, “Ya Ummul mukminin kenapa tak kau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa,” “Ya Ummu Burdah, kenapa tadi tak kau ingatkan”, jawab Aisyah tenang.

Kisah itsar yang sangat heroik terjadi pada saat perang Yarmuk. Ikrimah bin Abu Jahl seorang mujahid bersama dua sahabat yang lain terbaring dengan luka-luka sangat parah. Ketika seorang sahabat hendak memberinya minum, ia menolak dan menyuruh air itu diberikan ke teman di sebelahnya. Ketika air itu akan diberikan kesebelahnya, orang tersebut juga menyuruh diberikan lagi ke sebelahnya pula. Ia memilih mengalah pula pada saat-saat yang penting tersebut. Namun orang ketiga yang dimaksud sudah meninggal, ketika kembali lagi si pemberi minum ke sahabat yang tengah, ternyata ia sudah syahid juga.

Dan ketika beranjak ke Ikrimah, ia pun telah syahid. Subhanallah dalam detik-detik terakhir kehidupan atau di saat-saat kritis sekalipun mereka tetap menjaga itsar mereka.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *