Namanya Ibrahim bin Maimun Ash-Shaigh, seorang ulama dari kalangan Atba’u at-Tabi’in. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan dalam kitab tahdzibut tahdzib tentangnya, bahwa pekerjaan beliau adalah tukang besi, namun tatkala beliau mendengar seruan azan, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, ia tidak mampu untuk mengayunkan palu tersebut dan beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat.

Imam al-Aswad bin Yazid bin Qais an-Nakha’i al-kufi, seorang ulama dari kalangan Tabi’in. Imam Ibrahim an-Nakha’i berkata tentangnya: “Imam al-Aswad apabila telah tiba waktu shalat maka beliau akan menghentikan unta tunggangannya meskipun di atas batu”.

Saudaraku, setiap kita memiliki profesi dengan kadar kesibukan masing-masing. Namun, bagi orang beriman, kesibukan apapun yang mereka tekuni, sama sekali tidak melalaikan mereka dari memenuhi panggilan untuk beribadah kepada-Nya.

Dengannyalah kita mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam firmannya,

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (Terjemahan QS. An-Nuur: 37).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Mereka adalah orang-orang yang tidak dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berdagang dan meraih keuntungan dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka  Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezeki, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi.”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahkan bahkan menjadikan ibadah, khususnya shalat sebagai penyejuk hati, yang dengannya beliau mendapatkan istirahatnya. “Allah menjadikan penyejuk hati bagiku pada ibadah shalat”.

Juga perintah  Beliau Shallallahu’ alaihi Wasallam kepada Bilal radhiyallahu ’anhu  untuk mengumandangkan adzan: “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan melaksanakan shalat”.

Saudaraku, saat panggilan shalat menggema, mari tinggalkan sejenak aktivitas kita, mengambil air wudhu dan melangkahkan kaki-kaki kita menuju rumah-Nya.

Karena sejatinya, itulah yang menjadi sebaik-baik ‘bisnis’ kita, perniagaan yang tak pernah rugi![]

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 32

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *