Ia seorang kepala negara yang shaleh. Salah satu tokoh besar yang pernah dimiliki umat ini. Seorang khalifah terbaik di Era Abbasiyah yang menundukkan kesombongan Romawi pada masanya. Beliau adalah Khalifah Harun ar-Rasyid yang namanya tercatat dengan tinta emas di lembaran sejarah Islam.

Al-Khatib al-Baghdadi dalam master piecenya ‘Tarikh Baghdad’, menyebutkan tentang keshalehan sang kepala negara.

“Sebagian sahabat Harun bercerita bahwa ia shalat setiap hari sebanyak 100 rakaat. Hal itu ia lakukan dengan istiqamah hingga ia wafat. Kecuali ada sebab yang menghalanginya. Ia juga bersedekah dengan menginfaqkan 1000 dirham setiap hari. Apabila ia menunaikan ibadah haji, maka ia juga membawa 100 ulama ahli fikih dan anak-anak mereka berhaji bersamanya. Jika ia tidak berhaji, maka ia menghajikan 300 orang dengan bekal baju besi, kiswah, dan yang lainnya.”

Dalam kitab Tarikh Khulafa’, diiriwayatkan bahwa suatu hari Ibnu as-Samak datang menemui sang Khalifah. Saat itu Harun ar-Rasyid meminta minum kepada pelayan kerajaan. Didatangkanlah untuknya segelas minuman. Ibnu as-Samak kemudian berkata padanya, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya Anda terhalangi meminum minuman ini, dengan apa Anda akan membayarnya?” “Dengan setengah kerajaanku,” jawab sang Khalifah. “Minumlah, semoga Allah memberimu ketenangan,” kata Ibnu as-Samak.

Setelah sang Khalifah selesai meminum air itu, Ibnu as-Samak kembali bertanya, “Seandainya air ini dihalangi keluar dari badan Anda, dengan apa Anda akan menebusnya agar ia bisa keluar?” “Dengan seluruh wilayah kerajaanku,” jawab Khalifah.

Ibnu as-Samak melanjutkan, “Sesungguhnya harga sebuah kerajaan hanya dengan seteguk air dan kencingnya. Sungguh tidak pantas seorang berlomba-lomba memperebutkannya.” Harun ar-Rasyid pun menangis tersedu-sedu dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu as-Samak.

Saudaraku,

Betapa banyak orang yang terpana melihat gemerlapnya harta orang lain. Tidak pernah ia merasa cukup dengan jatah yang Allah karuniakan untuknya. Jika sudah mendapatkan suatu aksesoris dunia, dia ingin terus mengupgrade perhiasan itu. Jika motor telah ia miliki, ia beranjak pada obsesi lain yang bernama mobil, dan begitu seterusnya.

Rasulullah pernah berpesan kepada setiap kita tentang nikmat yang didapatkan orang lain;

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari Muslim)

Saudaraku,

Begitu banyak Allah memberi kita nikmat yang luar biasa; dari kesehatan, keturunan, dan menikmati tegukan air yang kadang tidak didapatkan oleh mereka yang bergelimang harta. Syukuri setiap nikmat itu, bahagialah dengannya. Karena bahagia itu tidak harus selalu berbanding lurus dengan harta yang melimpah. Ingatlah selalu bahwa ada raja yang ingin menukar seluruh kerajaannya dengan nikmat tegukan air yang Anda nikmati hari ini. WaLlahu waliyut taufiq.

Makassar, 22 Shafar 1438 H.

 

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *