Dakwah, Antara Obsesi dan Strategi
LAZISWahdah.com – 
Di tengah perjalanan pulang ke Madinah dari perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dijumpai oleh Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi, salah seorang pemimpin yang sangat disegani dan dihormati oleh kaum Tsaqif. Belum juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Urwah mengikrarkan keislamannya dan meminta izin kepada Rasulullah untuk kembali kepada kaumnya berdakwah, mengajak mereka turut serta merasakan sejuknya hidayah Islam, seperti yang telah ia rasakan.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan keselamatan Urwah atas sikap kaumnya yang mungkin saja akan menentang keislamannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengingatkan “Saya khawatir mereka akan membunuhmu, wahai Urwah!”. Kekhawatiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang cukup beralasan melihat bahwa kaum Tsaqif memiliki keberanian menentang dan keras kepala dalam berinteraksi dengan orang lain, bahkan dengan pemimpin mereka sekalipun.

Namun Urwah sudah terlanjur tertawan oleh semangat keislamannya, dengan yakin berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ini adalah seorang yang lebih mereka cintai daripada unta-unta mereka sendiri.” Dan memang demikianlah adanya, Urwah adalah sosok yang sangat disenangi oleh kaumnya. Lalu berangkatlah ia menuju kaumnya, berharap mereka akan memeluk Islam seperti yang telah dilakukannya lebih awal. Berharap tidak ada seorangpun yang menentangnya dikarenakan kedudukannya yang cukup disegani di tengah-tengah mereka.

Sesampainya di perkampungan kaumnya, tanpa menunggu waktu yang lama, Beliau radhiyallahu ‘anhu langsung berdiri di atas bukit seraya memanggil-manggil semua kaumnya agar berkumpul. Maka tak lama, kaum Tsaqif pun datang berduyun-duyun memenuhi panggilan pemimpin mereka. Urwah menyeru mereka untuk memeluk Islam dan mengabarkan bahwa dirinya juga sudah menjadi seorang Muslim. Urwah menyeru mereka sambil terus mengulang-ulang kalimat syahadat.

Namun bagaimanakah reaksi kaumnya? Begitu mendengar seruan dan pernyataan keislamannya, mereka menolak. Kaumnya enggan meninggalkan tuhan-tuhan mereka, bahkan tidak sekedar menolak, mereka juga menghujani Urwah dengan anak-anak panah dari segala penjuru. Dan seketika itu juga ia jatuh tersungkur, darahnya menitik membasahi tanah, dan Beliau pun radhiallahu ‘anhu wafat. Apa yang dirisaukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata benar adanya.

Saudaraku, memperjuangan Islam membutuhkan langkah-langkah yang tepat. Dengan itu, dakwah akan terus bergerak ke depan, meski jalan yang ditempuh terlampau panjang dan berliku. Kemampuan untuk memetakan dakwah akan turut mentukan survive tidaknya dakwah tersebut. Ghirah dakwah seharusnya tidak tersergap oleh ‘spontanitas’ dalam perjuangannya, namun ia tertata rapi dengan agenda yang terencana secara matang dan terukur. Semoga Allah merahmati kita semua dan para pejuang Islam.

Wallahu A’lam.[]

***
Oleh: Marzuki Umar, Lc.
Artikel : Majalah Sedekah PLUS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *