Berbagi adalah Kebutuhan
LAZISWahdah.com
Siapa yang membutuhkan sedekah?

Saat kita ditanya, “Siapa yang membutuhkan sedekah?”, maka mungkin yang terbayang di mata kita adalah orang-orang miskin, anak yatim, orangtua jompo, yang tertimpa musibah dan orang-orang yang membutuhkan bantuan secara materil.

Iya begitulah, kita beranggapan sedekah hanya berguna bagi penerima. Jarang disadari sedekah berfaedah juga bagi pelakunya. Padahal dalam banyak dalil, harta yang kita keluarkan di jalan Allah manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Hakikat sedekah adalah menjadikan harta kita kekal untuk suatu saat akan kita ambil manfaatnya. Jadi mindset bagi seorang saat bersedekah yang harus tertanam dalam benaknya adalah bahwa sedekah itu adalah kebutuhan pokok baginya, urusan akhirat jauh lebih penting dari sekedar urusan dunia. Kita ingin agar dengan sedekah ini menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Jadi tujuan menolong orang dengan sedekah kita itu urusan kedua. Tujuan utama adalah untuk menyelamatkan diri kita dari adzab Allah.

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (Terjemahan QS. at-Taubah: 35)

Na’duzubillah.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah.

Malah kita harus bersyukur Allah masih memberi kita kelapangan dan kesempatan untuk beramal kebajikan. Seorang yang sudah meninggal dunia berangan-angan untuk hidup kembali dan mengeluarkan sedekah dan menjadi orang shaleh, sebagaimana di ceritakan oleh Allah dalam al-Quran (yang artinya), “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang shaleh ?” (Terjemahan QS. Al-Munafiqun: 10)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, “Setiap orang yang lalai (di masa hidupnya) pasti akan menyesal di saat nyawanya akan dicabut. Ia memohon agar umurnya di perpanjang walau hanya sesaat untuk melaksakan amal shaleh yang selama ini ia tinggalkan.“(Tafsîr Ibnu Katsir (8/133).)

Kemudian apa saja manfaat sedekah yang lain bagi yang bersedekah, baik ia rasakan secara langsung ataupun tidak langsung? Tentu saja sangat banyak dan ruang rubrik ini tidak cukup untuk mengungkap semuanya. Namun penulis akan menyederhanakan dalam beberapa point.

Pembukti dan penyempurna Iman

Secara bahasa sedekah sejajar dengan arti keimananan (ashshidqu), yaitu upaya membenarkan keimanan dengan perbuatan. Termasuk, keimanan palsu jika seseorang mengaku mukmin, tetapi tidak dermawan. Rasulullah bersabda, ”Perilaku dermawan, bukti keimanan.” (HR Muslim). Sebaliknya, Allah mengecam orang yang menghardik pengemis dan anak yatim sebagai mendustakan agama dan keimanan (QS Al-Ma’un [107]: 1-3).

Dalam surah Aali-Imran ayat 93 Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Kamu sekali-kali tidak akan sampai mencapai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Segala bentuk ketaatan kepada Allah akan memberikan pengaruh terhadap tingkat keimanan. Dalam hal ini, bila seseorang tadi terus melaksanakan sedekah dengan ikhlas, maka imannya  akan meningkat.

Menyucikan dan menentramkan jiwa

Sedekah menjadi sarana penyucian diri dari dosa dan sifat kikir. Allah berfirman (yang artinya), ”Ambillah sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka. Dengan sedekah, kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (Terjemahan QS. At-Taubah: 103).

Sedekah merupakan cara dimana kita dapat bersuci diri dari kotoran yang menempel. Salah satu bentuk cinta dunia adalah mencintai hartanya yang berlebihan. Kotoran yang menodai jiwa dapat disucikan dengan sedekah. Makanya orang yang bersedekah akan mendapatkan ketentraman jiwa. Menenangkan pikiran dengan cara bersedekah merupakan cara cepat untuk meninggalkan pikiran kotor, negatif dan perbuatan tidak terpuji lainnya.

Selain ketentraman pribadi, sedekah juga akan melahirkan ketentraman sosial. Secara sosial, sedekah memupuk solidaritas dan pemberdayaan harkat ataupun martabat kaum lemah, fakir, miskin, dan yatim. Kalangan ekonomi tertinggal banyak terbantu, seperti mempercepat pemerataan kesejahteraan yang mampu menekan angka kriminalitas secara signifikan.

Sedekah juga akan berfungsi sebagai neraca keadilan yang menjembatani ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Kondisi lingkungan sosial tidak sehat bila orang kaya menghabiskan uang puluhan juta rupiah untuk hiburan, sementara banyak orang miskin tidak makan tiga hari tiga malam. Belum lagi, adanya fakta seorang ibu tega membunuh anaknya karena lapar. Jika kita melek sedekah dan sadar masih banyak tetangga miskin, semua berita tragis itu tidak perlu terjadi.

Menjadi Kaya

Secara kasat mata, saat kita bersedekah harta kita akan berkurang memberikan harta kita kepada orang membutuhkan. Namun berapapun harta yang kita

Ini mungkin kurang bisa dicerna bahwa sedekah itu dapat memperkaya seseorang. Karena secara kasat mata justru harta kita akan berkurang kalau disedekahkan. Tapi logika orang beriman tidak begitu.

Jika kita memiliki pemikiran kaya, maka kita akan merasa bahwa sekarang walaupun kekurangan namun tetap bersyukur dan menikmati dunia. Sehingga kenikmatan yang akan datang pasti tercapai hingga kita memiliki kekayaan yang berlimpah. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Ini berarti bahwa sedekah itu dapat memberikan suatu pemikiran untuk menjadi orang kaya. Orang kaya selalu memberikan sedekah kepada fakir miskin. Dan mereka selalu bersyukur kepada tuhan atas nikmat dan hidupnya. Itulah kenapa orang yang mau untuk bersedekah pasti kaya dengan hartanya.

Ingat pesan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Demikian semoga risalah singkat ini ada manfaatnya, utamanya bagi penulis. Wallahu muwaffiq.[]

***
Sumber : LAZISWahdah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *