bekal di perjalanan panjang

Jalan hidup kita begitu panjangnya. Jalan hidup kita bermula di sini, dan berakhir pada persimpangan akhirat: saat kita harus tunduk patuh pada ketetapan pengadilan Allah; surga atau neraka.

Dalam perjalanan yang panjang itu, pertanyaan penting yang seharusnya selalu menggelayut pada jiwa adalah “Apa gerangan bekal diri untuk menempuhinya?”

Jalan ini bukan jalan yang biasa. Tebing-tebing terjalnya tak terbayangkan. Kelokan-kelokannya tidak layak menjadi ajang uji nyali. Di setiap penghujungnya, engkau tak pernah dapat menduga: ujian apalagi yang akan memeras perhatian dan menahbiskan kekuatan imanmu?

Maka untuk perjalanan yang sedemikian itu, bekal yang kita butuhkan bukanlah bekal yang biasa. Bekal itu harus berasal dari titah langit, bukan dari hasil asah otak dan analisa logika kita yang dangkal. Bekal itu harus dari Sang Pengatur seluruh detak-detik kehidupan ini. Bekal itu harus benar-benar dariNya, Sang Mahabesar, Allah Azza wa Jalla.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Dan berbekallah, karena sesungguhnya bekal terbaik itu adalah taqwa.” (al-Baqarah: 197)

Taqwa. Memenuhi jiwa dengan rasa takut padaNya. Rasa takut yang membuatmu semakin cinta padaNya. Rasa takut yang membuatmu semakin dekat padaNya. Sejengkal demi sejengkal. Rasa takut itu membuatmu rindu pada saat-saat menunaikan perintahNya. Rasa takut itu membuatmu bertahan penuh kerinduan pada Surga pada saat-saat  deru kemaksiatan dan kedurhakaan melanda jiwa yang rapuh ini.

Karena sesungguhnya bekal terbaik itu adalah taqwa. Tidak ada yang lebih baik dari itu. Bahkan dalam jalan panjang ini, tidak ada bekal yang patut untuk menempuhinya selain bekal ini saja. Taqwa itu akan membahagiakan hidupmu. Karena Allah Ta’ala yang menciptakanmu telah memformat penciptaanmu seperti itu. Bahagiamu hanya pada taqwa-mu. Bahagiamu hanya pada saat engkau merintih dan mengadu penuh tetes air mata pada Sang Mahakuat. Bahagiamu akan semakin berlipat-lipat memenuhi setiap relung kehidupannya: ketika jiwa dan ragamu semakin menghamba dan menghamba pada Allah Rabb al-‘alamin.

Maka lihatlah rahasia kebahagiaan para ulama dan kaum shaleh. Takkan pernah kau temukan rahasia apapun selain: Taqwa itu saja. Maka taqwa itu hanya menjadi bekal bagi orang-orang yang berakal.

وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“…dan bertaqwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal!”

Semakin berakal dirimu, semakin besar ketaqwaanmu. Semakin besar ketaqwaanmu, semakin lurus jalanmu di jalan panjang ini. Jika bekal ini ada, maka engkau tak butuh lagi pada bekal apapun. Apapun.[]

Makassar, 20 Februari 2015

Muhammad Ihsan Zainuddin

Dimuat di Majalah SEDEKAH PLUS edisi 14 Tahun II

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *