LAZISWahdah.org – BENGKULU TENGAH – Desa Komering yang terletak di Kecamatan Merigi Sakti, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, mencatatkan korban terbanyak pada bencana Banjir dan Longsor di Provinsi Bengkulu Jumat (26/04/2019) lalu.

Tercatat sebanyak tujuh warga desa ini yang menjadi korban meninggal dunia. Ketujuh korban tersebut menjadi korban longsor saat sedang menjaga kebun kopi milik mereka, yang terletak tujuh kilometer dari Desa Komering.

Ketuju korban tersebut adalah dua keluarga yang terdiri atas Suami, Istri dan Anak, serta seorang pemuda berusia 19 tahun.

Tiga korban pertama berasal dari satu keluarga yang berdomisili di Dusun III yakni seorang Suami bernama Idil Adha (32), Istri bernama Mira Sasmita (20) dan anak satu-satunya bernama Kanilo Al-Faris (13 bulan), dan tiga korban selanjutnya juga merupakan satu keluarga atas nama Suami Berlian (27), Istri bernama Lola Novita (24) dan sang anak semata wayang, Arkan (2,5).

Satu korban terakhir atas nama Bambang, pemuda berusia 19 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga untuk mengolah kebun kopi warisan mendiang ayahnya.

Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dengan ibu yang telah menjanda selama beberapa puluh tahun.

Pendidikan terakhir Bambang adalah Sekolah Dasar (SD), yang kemudian putus sekolah untuk mengolah perkebunan keluarganya.

Bambang tiap hari harus berjaga di kebun kopi miliknya dengan tinggal dalam pondok atau gubuk dalam kebun, khususnya pada saat musim panen.

Nahas, pada malam kejadian, Bambang yang sedang bermalam di Pondok kebun milik temannya, tergerus longsor dan terperosok dalam tebing yang menuju pada tepian sungai.

Jenazah Bambang ditemukan oleh warga setempat pada Senin (29/04/2019) tepat di kaki Gunung Bungkuk, dekat area perkebunan warga Desa Komering.

Kini sang tulang punggung keluarga itu telah tiada, dan sang Ibu hanya berharap agar adik yang ditinggalkannya, yang sedang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar (SD), bisa lanjut sekolah, tidak seperti kedua kakaknya yang tidak melanjutkan pendidikannya pasca tamat dari SD.

Sambil menyeka air matanya, nampak berat Ida (40), sang Ibu, untuk melepas anak lelakinya tersebut.

Pasalnya, kini sudah tidak ada lagi yang bisa mengelola kebun milik keluarga, yang selama tujuh tahun, siang dan malam dijaga oleh almarhum anaknya.

Sama seperti dua keluarga sebelumnya yang menjadi korban, Relawan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah (LAZIS) Wahdah Islamiyah kemudian mengumpulkan informasi ini sambil menyerahkan bantuan sembako kepada keluarga yang ditinggalkan.

Bantuan ini diterima langsung oleh Ibu korban, yang sangat berterimakasih atas hadirnya relawan.

“Sangat terimakasih relawan LAZIS Wahdah sudah datang jauh-jauh dari Sulawesi Selatan untuk menemui kami. Semoga selalu diberikan kesehatan oleh Allah taala,” ucap Ida kepada tim Relawan LAZIS Wahdah yang dipimpin oleh relawan asal Sulawesi Selatan, Muhammad Syukri Turusi. (*rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *