balasan memudahkan orang lain
balasan memudahkan orang lain

 

LAZISWahdah.com – “Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

Lebaran tahun 2009, saya bekunjung ke rumah paman saya untuk bersilaturahmi dalam rangka mudik lebaran. Banyak cerita yang dibagi dan diwarnai gelak tawa dalam suasana yang akrab, maklum kami hanya bertemu setahun sekali, paling banter 2 sampai 3 kali setahun karena kesibukan kami masing-masing. Di sela-sela tawa selama bersama keluarga paman, sebelum berpamitan paman saya memberikan wejangan yang sampai saat ini saya berkomitmen untuk menjaganya.

Wejangan tersebut berisi tiga hal, ”Janganlah Allah kamu beri tiga sisa. Pertama, sisa waktu. Ketika tiba waktu shalat segeralah shalat, sempatkan dan upayakan shalat tepat waktu. Jangan ketika waktu shalat akan berakhir baru kamu laksanakan shalat. Kedua, sisa tenaga. Ketika kamu satu saat nanti mampu berhaji, segeralah tunaikan haji. Jangan menunggu ketika kamu renta baru kamu tunaikan haji. Ketiga, sisa harta. Kapan pun kamu ada rezeki, baik saat lapang atau sempit, baik saat ada harapan ataupun tidak, baik saat kaya atau miskin, bersedekahlah. Jangan ketika sudah tidak punya apa-apa, kamu baru ingat untuk bersedekah.”

Saya berusaha untuk melaksanakan dan menjadikan wejangan itu sebagai komitmen hidup.

Saya selalu berupaya menyisihkan 10% uang kiriman dari orang tua dan pemberian kakak (maklum masih kuliah hehehe, lebih mengandalkan pemberian orang tua daripada kemampuan sendiri). Begitu awal bulan mendapat sejumlah kiriman uang via rekening, segera saya tarik tunai dan saya sedekahkan uang tersebut di masjid sekitar kos setiap Shalat Jumat. Saya berusaha istiqamah menjalankannnya karena saya yakin dengan janji Allah untuk membalasnya dengan balasan yang berlipat-lipat.

Menjelang akhir semester 3 (sekitar pertengahan Maret 2010), sudah menjadi kebiasaan mahasiswa STAN berburu tiket pulang ke kampung halaman. Di tengah antusiasme untuk membeli tiket, dalam antrian tiket di stasiun Gambir saya teringat seorang teman yang tidak jadi pulang kampung karena tidak mempunyai ongkos pulang.

Menjelang antrian saya di depan loket, kembali saya teringat akan kedua orang tua saya dan kerinduan saya kepada mereka. Saya yang setahun bisa pulang sampai 5 kali saja sangat merindukan orang tua saya, bagaimana dengan teman saya yang hanya pulang kampung setahun sekali pada saat lebaran? Itupun dengan menumpang kereta standard, Kertajaya.

Akhirnya tanpa pikir panjang, segera saya keluar dari antrian dan naik bus P44 yang membawa saya ke Stasiun Senen. Jatah uang untuk tiket Argo Bromo atau Sembrani saya tukar dengan dua lembar tiket bisnis kereta api Gumarang. Seketika, sesaat setelah memegang tiket saya berpikir kembali, gak lucu rasanya hanya bisa membawanya pulang tanpa membawanya kembali ke Jakarta, karena hanya akan menambah beban keluarganya.

Segera saya melangkah ke ATM untuk mengambil uang di rekening tabungan saya. Sisa uang saat itu hanya sebesar Rp500.000 saya ambil Rp300.000 untuk membeli tiket balik (kembali ke Jakarta), berarti hanya tersisa Rp150.000 sampai akhir bulan, atau setidaknya sampai menjelang keberangkatan (Rp50.000,00 saldo minimal bank). Kami pun pulang kampung bersama, saya tidak masalah uang saya habis, asalkan teman saya yang semula tidak bisa pulang kampung bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.

Tiga bulan kemudian, di akhir Juni saya dimintakan tolong oleh salah seorang dosen untuk membantunya mengetik. Saya pun menyanggupi karena memang hal itu bukanlah sesuatu yang berat.  Tidak disangka, ternyata saya diminta tolong untuk membantu mengerjakan buku yang sedang beliau tulis untuk kepentingan diklat dan diedarkan secara umum (saya pun tidak tahu alasan mengapa saya yang ditunjuk, padahal IP saya pas-pasan).

Tak hanya itu, di sela-sela pembuatan buku mengenai penatausahaan Barang Milik Negara (BMN), secara tidak langsung beliau menjadikan saya sebagai asisten dosen. Membantu menyiapkan presentasi untuk bahan mengajar, menjadi editor buku, dan dipercaya menggantikan beliau mengajar diklat penatausahaan ketika beliau tidak bisa. Ini menjadi salah satu kesibukan saya selama 9 bulan sebelum saya mengundurkan diri untuk berkonsentrasi menyelesaikan Karya Tulis Tugas Akhir (KTTA). Alhamdulillah selama 9 bulan saya mendapat banyak nikmat berupa tambahan ilmu, makan gratis dan fasilitas sebagai pengajar diklat juga saya dapatkan.

Atas nikmat tersebut, saya baru tersadar, mungkin inilah balasan Allah karena saya membantu seorang teman beberapa waktu yang lalu. Melalui Beliau, Allah meringankan hidup saya. Selama kurun waktu 9 bulan sejak Juni 2010 hingga Maret 2011, selama berada di Tangerang Selatan (kampus STAN) saya tidak pernah mengeluarkan uang untuk makan siang dan makan malam karena memang jam kerja saya selepas pulang kuliah sampai jam 7 atau 8 malam. Segala kebutuhan saya dipenuhi oleh dosen saya tanpa diminta.

Makan siang dan malam yang mewah (untuk ukuran anak kos) berupa nasi padang (karena beliau memang orang Minangkabau), pulsa handphone yang rutin selalu terisi lebih dari cukup sebelum saya mengisinya, bahkan ongkos perjalanan pulang untuk menghadiri pernikahan kakak kedua saya dan ongkos perjalanan mudik lebaran dengan pesawat dan kereta eksekutif (pulang pergi) beliau berikan kepada saya. Di luar itu, saya juga mendapat penghasilan berupa uang yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Allah betul-betul membalas sedekah saya berlipat-lipat dari apa yang disedekahkan.

Merasakan hal-hal tersebut saya hanya bisa mengucap syukur dan selalu berupaya istiqamah untuk selalu bersedekah, karena saya yakin Allah akan membalasnya dengan berbagai cara. Akhirnya, saya kembali teringat akan wejangan om saya untuk tidak memberikan Allah sisa harta. Saya merasakan betul bahwa Allah memang tidak pernah mengingkari janji-Nya.

(Ferdy Kanz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *