andai kau tahu

Oleh: Ustadz Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc. M.Si.

Betapa sering kita merasa bangga ketika melihat begitu banyak orang yang membutuhkan kita. Saat kita menyaksikan orang-orang berkumpul di sekeliling kita, betapa bangganya jiwa ini. Padahal orang-orang itu sesungguhnya tidak mengetahui siapa dan bagaimana diri kita sesungguhnya (dan kita menyadari hal itu). Dan yang membuat segalanya menjadi semakin parah, kita pun seperti selalu berusaha menampilkan berbagai bentuk dan rupa kepalsuan. Menampilkan kekhusyu’an padahal sesungguhnya tidak khusyu’. Berlagak seperti ahli dzikir, padahal hati selalu lalai mengingat Allah.. Dan orang itu bukan siapa-siapa, dialah kita.

Kaum shaleh terdahulu yang hampir tidak bisa diragukan lagi keshalehannya seringkali mengungkapkan kekhawatirannya akan dirinya sendiri. Mereka sangat khawatir amal mereka tidak diterima oleh Allah. Mereka masih saja berperilaku seolah-olah merekalah para penghuni Neraka. Jilatan dan kobaran api Neraka seperti begitu dekat..

Seorang ‘alim bernama Yusuf ibn Ahmad Asy-Syairazy mengisahkan tentang salah seorang gurunya yang dikenal dengan Abul Waqt. Sang guru ini dikenal sebagai salah satu ahli hadits yang telah melakukan pengembaraan panjang untuk menyelami hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bahkan digelari sebagai ruhlah ad-dunya (sang pengembara dunia). Simaklah penuturan Yusuf Asy-Syairazy tentang gurunya yang satu ini:
“… Allah akhirnya menakdirkan aku bertemu dengan beliau di negeri bernama Kirman. Saat aku pertama berjumpa, kuucapkan salam kepadanya lalu aku mencium (kepala atau pundak)nya. Kemudian aku duduk bersimpuh di hadapan beliau. Tidak berapa lama kemudian, berliau bertanya kepadaku: “Apa yang membuatmu datang ke negeri ini?” Aku menjawab: “Engkaulah yang menjadi maksudku, Tuanlah sandaranku setelah Allah Ta’ala, aku telah menulis hadits-hadits yang engkau riwayatkan dengan penaku, namun aku tetap berusaha menemui Tuan dengan kedua kakiku agar aku bisa mendapatkan keberkahan nafas-nafas Tuan dan mendapat sanad Tuan yang lebih tinggi.” Beliau kemudian berkata: “Semoga Allah memberikan taufiq dan keridhaan kepadku dan kepadamu. Semoga Ia menjadikan segala upaya kita adalah karena-Nya. Semoga Ia menjadikan tujuan kita hanyalah pada-Nya. Duhai, seandainya saja engkau mengetahui aku dengan sebenar-benarnya, niscaya engkau tidak akan mau mengucapkan salam padaku. Niscaya engkau tidak akan sudi duduk di hadapanku…”

Beliaupun menangis. Lama sekali. Hingga membuat semua yang hadirpun turut menangis. Lalu beliau melanjutkan ucapannya, “Ya Allah! Tutupilah aib-aib kami dengan perlindungan-Mu yang Maha Indah, dan jadikanlah apa yang ada di bawah perlindungan-Mu itu sesuatu yang Engkau ridhai untuk kami…”

Itulah yang dikatakan oleh sang ‘alim pengembara dunia. Lalu apakah gerangan yang patut kita ucapkan dengan segala kelalaian kita? Katakanlah kepada siapa pun yang mencoba mengagumi dan memuji kita: “Saudaraku, andai engkau tahu siapa aku sebenarnya…” Lalu tangisilah diri sendiri…[]

Dimuat di Majalah SEDEKAH PLUS rubrik Oase Iman, edisi 9 Tahun I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *