Syamsuar Hamka 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam Surat Al-Isra:

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha yang diberkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkantanda-tanda kekuasaan Kami, bahwasanya Dia itu Maha Mendengar dan Maha Melihat“. (Q.S. Al-Isra / 17 : 1).

Berdasarkan ayat tersebut, Allah menempatkan Kedudukan Masjid Al-Aqsha sebagai :

1) Nama yang diberikan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

2) Merupakan tempat singgah Isra Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

3) Merupakan tempat yang diberkahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain ketiga kedudukan tersebut, Masjid Al-Aqsha juga menjadi bagian dari Islam, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yakni :

1) Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam

Masjid Al-Aqsha di Palestina adalah kiblat pertama umat Islam, sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjid Al-Aqsha Palestina ke Masjid Al-Haram di Mekkah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunaikan shalat menghadap Masjid Al-Aqsha sewaktu berada di Mekkah sebelum Hijrah hingga hijrah ke Madinah, dalam kurun waktu 16 bulan. Kemudian atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala beliau shalat menghadap Ka’bah (Masjid Al-Haram) di Mekkah.

Di dalam hadits disebutkan sebagai berikut :

“Dari Al-Bara bin ‘Azib berkata, “Saya shalat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas bulan, sampai turun ayat di dalam Surah Al-Baqarah wahaitsu ma kuntum fawallau wujuhakum syatroh…” (H.R. Bukhari).

Ayat di dalam Surah Al-Baqarah yang dimaksud adalah ayat 144

2) Masjid Al-Aqsha adalah Bangunan Kedua yang Diletakkan Allah di Bumi

Di dalam sebuah hadits disebutkan :

“Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Beliau bersabda, “Al-Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Beliau bersabda, “Kemudian Al-Masjid Al-Aqsha”. Berkata Abu Mu’awiyah “Yakni Baitul Maqdis” . Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun”. (HR. Ahmad dari Abu Dzar).

Pondasi Masjid Al-Aqsha diletakkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak zaman Nabi Adam ‘Alaihis Salam. Dalam kurun waktu sekian lama, bangunan itu rusak dan runtuh dimakan waktu. Areal tanah sekitar Masjid Al-Aqsha juga termasuk ke dalam kawasan masjid tersebut. Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam shalat di tanah itu, bagian Masjid Al-Aqsha.

Ibnul Qayyim Al-Jauzy menyebutkan, Masjid Al-Aqsha dibangun kembali di atas pondasinya oleh cucu Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Ya`qub bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihis Salam. Keturunan berikutnya, Nabi Daud bin Ya’qub ‘Alaihis Salam membangun ulang masjid itu. Bangunan Masjid Al-Aqsha diperbaharui oleh putera Nabi Dawud ‘Alaihis Salam, yakni Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam. Mereka para nabi utusan Allah membangun kembali Masjid Al-Aqsha adalah untuk tempat ibadah mendirikan shalat di dalamnya, bukan mendirikan kuil sinagog seperti klaim Zionis Yahudi.

3) Masjid Al-Aqsha merupakan Tempat Ziarah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah

Tentang anjuran yang sangat untuk berziarah Masjid Al-Aqsha disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits :

“Tidak dianjurkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)”. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Dengan dasar hadits ini, Masjid Al-Aqsha merupakan tempat kunjungan yang mulia. Maka sangat dianjurkan untuk berziarah ke sana, shalat di dalamnya, dan mengetahui secara mendalam tentangnya.

4) Keutamaan 1.000 kali lipat Pahala Shalat di Masjid Al-Aqsha

Hal tersebut sesuai dengan hadits yang menyebutkan shalat di Masjid Al-Aqsha lebih utama 1.000 kali dibandingkan shalat di masjid lain,

“Sesungguhnya Maimunah pembantu Nabi berkata, “Ya Nabiyallah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis”. Maka Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia, maka shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat dari shalat di tempat lain”. (HR Ahmad).

5) Negeri Para Nabi Utusan Allah

Para nabi utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, banyak diturunkan di kawasan Masjid Al-Aqsha Palestina dan sekitarnya. Sehingga jejak-jejak langkah kaki para Nabi utusan dalam berdakwah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, mengajak manusia menyembah dan memperibadati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, terukir abadi di negeri para nabi, Al-Aqsha Palestina. Hal itu juga dibuktikan dengan peninggalan sejarah Islam dengan adanya makam-makam para Nabi utusan Allah Subhananhu Wata’ala, seperti : makam Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, makam Nabi Syu’aib ‘Alaihis Salam, makam Nabi Musa ‘Alaihis Salam, makam Nabi Dawud ‘Alaihis Salam, makam Nabi Yunus ‘Alaihis Salam, dan makam Nabi Sulaiman ‘Alaihis Salam.

Kondisi Terkini

Semenjak dahulu, negeri Palestina menjadi sebuah negeri tumpah darah Arab, atau lebih tepatnya lagi ia telah kembali kepada kerabatnya yang penuh. Palestina sebelum dikenal oleh bangsa Yahudi adalah sebuah negeri Arab, karena orang-orang Arab lebih dulu pindah ke tempat itu dari pada bangsa Yahudi. Islam telah menghidupkan kembali syiar ke-Arab-an kepada negeri itu, dan ketika itu Palestina kosong sama sekali dari bangsa Yahudi, dengan demikian maka Palestina telah menjadi Negara Arab Islam.

Semenjak Al-Quds dikuasai Yahudi banyak lahan pertanian dikuasainya, baik berupa perkebunan maupun ladang-ladang penduduk. Penguasaan lahan-lahan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan politik daripada kepentingan dalam bidang ekonomi, sebab pada dasarnya orang-orang Yahudi tidak suka bekerja sebagai petani maupun diperindustrian.

Pada tahun 1964 diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi Arab di Kairo dengan tujuan untuk mengembalikan identitas dan status orang-orang Palestina waktu itu  diputuskan untuk membentuk organisasi Palestina dengan angkatan perangnya. Dalam tahun itu juga diselenggarakan Kongres pertama orang-orang Palestina bertempat di Al-Quds. Kongres berhasil mendirikan “Palestina Liberation Organization (PLO)” yang mempunyai dua badan yaitu dewan nasional dan badan eksekutif. Pada kongres ini juga diputuskan untuk membentuk angkatan perang yang diberi nama “Palestina Liberation Army (PLA)”. Pada waktu itu Yasser Arafat mulai tenar namanya dan dikenal anggota PLO. Kemudian pada waktu sidang dewan nasional pada bulan Februari 1969 Yasser Arafat terpilih sebagai ketua eksekutif PLO di samping masih tetap memegang pimpinan gerakan pembebasan nasional Palestina Al-Fatah.

Kini, Palestina masih terus berusaha dan berjuang untuk bebas dari penjajahan Israel. Dan peristiwa beberapa waktu yang lalu, dimana Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan pengakuannya di gedung putih bahwa Al-Quds adalah ibukota Israel menambah panjang jalan perjuangan kebebasan Palestina. Keputusan itu memantik kemarahan negara-negara yang tergabung dalam OKI dan masyarakat dunia Islam. Dan kini intifadhah berlanjut. Sampai kapan berakhir dan sampai kapan Palestina mendapatkan hak kemerdekaannya? Wallahu a’lam, hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui. Tugas kita adalah turut berkontribusi dalam perjuangan saudara kita di Palestina. Wallahu a’lam bi as-Shawab.[]

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 48

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *