Oleh Ustadz Ayyub Soebandi, Lc. (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab)

Perilaku terbaik dari seorang guru ialah, sebagaimana dikatakan: “Siapa yang mempelajari suatu ilmu, kemudian mengamalkannya, dan setelah itu mengajarkannya kepada orang lain, maka ia termasuk kelompok yang disebut sebagai “pembesar” pada kerajaan langit.”

Orang yang dikaruniai ilmu yang banyak, lalu beramal dengannya, dan juga mengajarkannya kepada orang lain, maka ia dipandang lebih mulia daripada para malaikat langit maupun malaikat yang bertugas di bumi.

Orang seperti itu dapat diibaratkan matahari yang menyinari diri sendiri, dan sekaligus mendistribusikan sinarnya kepada benda lainnya. Orang yang seperti itu laksana wangi kasturi, ia sendiri harum, dan sekaligus menebarkan semerbak keharumannya kepada yang lain.

Orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain (guru), namun tidak beramal dengannya adalah laksana buku cetak yang tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri, akan tetapi sungguh bermanfaat bagi pembacanya. Atau, laksana batu asah yang mampu menajamkan pisau yang diasah di atasnya, akan tetapi ia sendiri tidak mampu memotong apa pun. Atau ibarat jarum yang tetap telanjang, meskipun ia sendiri dapat menjahit pakaian bagi kebutuhan manusia. Atau ibarat lilin yang memberikan cahaya penerangan bagi benda lain di sekitarnya, akan tetapi ia sendiri habis terbakar.

Orang yang menetapkan diri dan bertekad untuk mengambil pekerjaan sebagai guru, ia harus menjalankan tugas dan kewajiban berikut ini:

  1. Adab yang pertama, seorang guru harus memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada para muridnya, serta memperlakukan mereka laksana anaknya sendiri.

Sudah sepantasnya seorang guru dalam mengajarkan ilmunya mempunyai niat dan tujuan untuk melindungi para muridnya dari siksa api neraka. Tugas seorang guru lebih berat daripada kedua orangtua. Bahkan, seorang guru adalah ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Jika seorang ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana’ ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti. Dengan demikian, menjadi wajar apabila seorang murid tidak dibenarkan untuk membeda-bedakan antara hak guru dan hak kedua orangtuanya. Sebab, lantaran ajaran para guru ruhanilah seorang murid mengetahui dan ingat akan kehidupan akhirat.

Guru yang dimaksudkan di sini adalah guru yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang akhirat (ukhrawi), atau ilmu-ilmu tentang dunia (duniawi) dengan tujuan keabadian negeri akhirat. Seorang guru dinilai membinasakan diri sendiri dan juga murid-muridnya jika ia mengajar hanya demi kepentingan dunia ini semata. Karena itu, seorang guru yang berorientasi pada kepentingan akhirat akan senantiasa menempuh perjalanan hidupnya di dunia ini untuk tujuan menggapai kebahagiaan negeri akhirat nanti.

  1. Guru hendaknya mengikuti teladan dan contoh dari akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan perkataan lain, seorang guru tidak diperkenankan menuntut imbalan atau upah bagi aktivitas mengajarnya; selain mengharapkan kedekatan diri kepada Allah Ta’ala semata. Sebab, Allah Ta’ala sendiri yang telah mengajarkan kepada kita untuk berkata, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:

‎‫وَ يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللهِ.

“Katakanlah: “Aku tidak menginginkan upah darimu untuk seruanku ini. Upah yang aku harapkan hanyalah di sisi Allah.” (QS. Hud : 29)

Harta dan kekayaan hanyalah pelayan bagi tubuh kita, yang menjadi kendaraan atau tunggangan bagi jiwa, yang pada hakikatnya adalah ilmu. Dan hanya karena ilmu, jiwa seseorang menjadi mulia. Orang yang mencari harta dengan menggadaikan ilmunya ibarat seseorang yang mukanya kotor, namun badannya yang dibersihkan. Kendati seorang pengajar (guru) berjasa atas ilmu yang didapat oleh para muridnya, namun mereka (para murid) juga memiliki jasa atas diri sang guru. Karena, para murid-lah yang menjadi sebab ia (guru) bisa dekat kepada Allah Ta’ala, dengan cara menanamkan ilmu serta keimanan di dalam qalbu mereka (para murid).

  1. Guru hendaknya berusaha mencegah murid-muridnya dari memiliki watak serta perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian; atau, melalui cara-cara yang halus seperti, sindiran, dengan simpati, bukan keras dan kasar. Karena, jika sikap semacam itu yang dikedepankan, maka sama artinya dengan guru tersebut melenyapkan rasa takut dan mendorong ketidakpatuhan pada diri murid-muridnya.
  2. Seorang guru tidak boleh merendahkan ilmu lain di hadapan para muridnya. Guru yang mengajarkan bahasa biasanya memandang rendah ilmu fiqih, dan guru ilmu fiqih melecehkan ilmu hadits, demikian seterusnya. Tindakan-tindakan semacam ini sungguh sangat tercela jika sampai dilakukan oleh seorang guru. Seharusnya, seorang guru dari satu disiplin ilmu tertentu harus turut mempersiapkan murid-muridnya untuk mampu mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Selanjutnya, seorang guru sebaiknya menyampaikan materi pengajaran sesuai dengan aturan yang ada secara bertahap atau berjenjang, tidak sekaligus. Sebab, semua itu bisa membebani pemahaman murid-muridnya.
  3. Guru mengajar murid-muridnya hingga mencapai batas kemampuan pemahaman mereka. Tidak diperkenankan seorang guru menyampaikan materi pelajaran di luar batas kapasitas pemahaman para muridnya.

Pelajaran yang disampaikan kepada para murid hendaknya disajikan dengan cara-cara yang mudah dimengerti. Sekaligus membubuhkan penjelasan yang dibutuhkan dalam konteks kekinian, atau contoh nyata yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Semua itu demi tujuan mengembangkan pemahaman yang didapat oleh seorang murid, agar bisa lebih mudah untuk diamalkan.

  1. Selanjutnya, guru hendaknya mengajarkan kepada para murid yang berkemampuan terbatas hanya sesuatu yang jelas, lugas, dan yang sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas. Orang yang awam acapkali menilai bahwa kebijaksanaan yang ditempuh seorang guru dalam cara-cara mengajar yang digunakan dianggap menyalahi aturan umum yang berlaku. Mereka baru merasa puas jika pengetahuan yang disampaikan seorang guru mereka anggap update sesuai dengan perkembangan kemajuan zaman. Jika sebaliknya, maka guru dimaksud akan mendapat label bodoh, tidak mampu mengajar, atau pelit dalam menyebarkan ilmu yang dimilikinya. Dengan kalimat lain yang lebih urai dapat disampaikan di sini, bahwa pintu perdebatan tidak boleh dibuka di hadapan orang awam.
  2. Guru harus melakukan terlebih dahulu apa yang diajarkannya, dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. Ilmu dapat diserap dengan mata batin, dan amal dapat disaksikan melalui pandangan mata lahir. Banyak yang memiliki mata lahir, namun sangat sedikit yang memiliki dan mau memanfaatkan mata batin. Oleh karena itu, jika perbuatan seorang guru bertentangan dengan apa yang dianjurkannya, berarti ia tidak membantu memberi petunjuk dan tuntunan, melainkan justru racun atau bencana.

Allah Ta’ala berfirman:

‎‫أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ.

“Mengapa engkau suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang engkau melupakan diri (kewajiban) mu sendiri?” (QS. Al-Baqarah : 44)

Wallahu a’lam.[]

Disarikan dari Ihya ulumuddin karya Al-Gazali dengan sedikit perubahan

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 44

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *